Berita Bisnis
Harga Timpang dengan Toko Ritel, Pedagang Minyak Goreng di Pasar Peterongan Semarang Resah
Sejumlah pedagang bahan pokok di Pasar Peterongan Kota Semarang resah akan ketimpangan harga minyak goreng di pasar tradisional dan toko ritel.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: rika irawati
"Mereka tetap jadi beli tapi terpaksa. Dikiranya, pedagang di sini masih nglarangke (meninggikan harga), padahal memang harga masih tinggi karena subsidi belum masuk," keluhnya.
Marni berharap, pemerintah segera menerapkan kebijakan yang sama bagi pasar tradisional. Sehingga, tidak ada lagi ketimpangan harga minyak goreng antara toko retail dan pasar tradisional.
"Kalau (subsidi) diturunkan, ya serentak, biar tidak bingung. Juga, biar subsidi adil merata," ungkapnya.
Baca juga: Hanya 2 Hari! Kodim 0701 Banyumas Berikan Vaksin Booster Bagi Warga Usia 18 Tahun ke Atas
Baca juga: Pesta Arak di Cepu Blora Berujung Maut, 6 Orang Meregang Nyawa
Baca juga: Vaksinasi Booster di Karanganyar Mulai Diberikan, Diprioritaskan untuk Lansia dan Pelayan Publik
Baca juga: Hati-hati! Obat Kuat Mengandung Bahan Berbahaya Beredar di Pasaran. BPOM Semarang Giatkan Pembinaan
Senada dikatakan Ahmad, pedagang lain di Pasar Peterongan.
Ia menuturkan, harga minya goreng di tempatnya masih tinggi, di kisaran Rp 17 ribu sampai Rp 21 ribu per liter.
"Harganya masih tinggi. Yang turun hanya ini (menunjuk satu merk). Kemarin sampai Rp 20 ribu per liter sekarang Rp 17 ribu per liter. Lainnya biasa," ungkap dia.
Dengan tingginya harga minyak goreng tersebut, menurut Ahmad, membuat banyak pelanggannya mengeluh.
Ia berharap, harga minyak goreng di pasar tradisional segera turun.
"Belum ada subsidi. Mudah-mudahan, harga cepat turun," ujarnya. (*)