Breaking News:

Berita Batang

Bukit Siglagah Longsor, Sebagian Wilayah di 3 Desa di Batang Terancam Banjir Bandang

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Batang Agus Sembodo mengatakan, sejumlah wilayah di tiga desa di Batang terancam banjir bandang.

Penulis: dina indriani | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/DINA INDRIANI
Kondisi jalan dan jembatan yang terputus akibat tanah longsor di Bukit Siglagah, Kabupaten Batang. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batang Agus Sembodo mengatakan, sejumlah wilayah di tiga desa di Batang, terancam banjir bandang.

Ancaman ini muncul setelah terjadi longsor di jalur Pranten-Dieng.

Ketiga desa tersebut adalah sebagian Desa Deles, sebagian Desa Candigugur, dan sebagian Desa Bawang.

"Takutnya, seperti itu dampaknya, terutama jika ada curah hujan tinggi terus-terusan mengguyur di wilayah yang longsor," tuturnya, Rabu (5/1/2022).

Baca juga: 4 Hari Terapung di Laut Papua, 12 ABK Asal Batang Pulang Selamat. 2 Masih dalam Pencarian

Baca juga: Ayah di Batang Tega Bacok Anak Kandung, Berawal Rasa Cemburu pada Istri

Baca juga: Geram, Warga Blado Batang Bakar Motor Pencuri Kentang. Videonya Viral di Media Sosial

Baca juga: Berniat Cari Rumput, Warga Silurah Batang Temukan Kerangka Manusia di Hutan Pedati

Dikatakannya, potensi itu muncul karena longsor menutup aliran Sungai Belo dan terjadi pelebaran bibir sungai akibat longsor.

Hal lain adalah mahkota longsor masih tampak di bukit yang longsor, masih ada bongkahan yang masih mungkin ambrol.

"Yang wajib waspada adalah warga yang tinggal di pinggir Sungai Belo itu," ujarnya.

Saat ini, BPBD sudah meminta perangkat Desa Pranten untuk siaga jika curah hujan tinggi.

Lalu, juga mengabarkan ke perangkat desa yang kemungkinan terdampak.

"Kami selalu berkoordinasi terkait peringatan, cari lokasi evakuasi aman, hingga menyiapkan orang-orang yang siaga," imbuhnya.

Bupati Batang Wihaji mengakui, wilayah tersebut rawan longsor.

Ia sudah memerintahkan BPBD Batang untuk waspada karena potensi longsor masih ada.

Baca juga: Pernah Kena Covid sehingga Merasa Tak Perlu Vaksin Jadi Alasan Warga Wonosari Semarang Gunakan Joki

Baca juga: Seekor Harimau Teror Warga Kepetek Banyumas, Tawin: Hewannya Besar seperti Kambing

Baca juga: Tambah Satu Pemain Asing, PSIS Semarang Resmi Kenalkan Striker Baru Chevaughn Walsh

Baca juga: Bukan Hanya Omicron yang Diwaspadai, Corona Juga Mengakibatkan Florona. Ini Gejala dan Bahayanya

Saat ini, wilayah perbukitan tersebut menjadi ladang kentang.

Terkait kondisi ini, Wihaji mengatakan, hal itu menjadi wilayah Perhutani.

"Karena memang Perhutani menjadi pemilik tanah di lokasi longsor itu," ujarnya.

Ia juga mengatakan penanganan longsor jalur Pranten-Dieng butuh koordinasi beberapa pihak.

"Lalu, juga ada kewenangan Lingkungan Hidup, ada juga wewenang kabupaten, ini masih dikoordinasikan," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved