Breaking News:

Berita Pendidikan Hari Ini

Tingginya Kasus Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan, Ini Tanggapan dan Rencana PGRI Jateng

Di Jateng, anak jenjang SD menjadi korban kekerasan seksual sebesar 64,7 persen, diikuti anak SMP 25,53 persen, dan SMA atau sederajat 11,77 persen.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/MAMDUKH ADI PRIYANTO
Ketua PGRI Jateng, Muhdi. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis data yang menunjukan anak sekolah dasar (SD) tercatat menjadi korban paling banyak kasus kekerasan seksual sepanjang 2018-2019.

Anak jenjang SD menjadi korban kekerasan seksual sebesar 64,7 persen, diikuti anak SMP 25,53 persen, dan SMA atau sederajat 11,77 persen.

Mirisnya, pelaku merupakan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah yang seharusnya menjadi teladan.

Bahkan, akhir-akhir ini yang menjadi sorotan yakni kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi yang melibatkan dosen dan mahasiswanya.

Ketua Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Tengah, Muhdi mengatakan, pendidik dan tenaga kependidikan harus mengetahui batasan-batasan yang ada terkait kekerasan seksual.

"Sekolah atau dunia pendidikan, terutama tenaga kependidikan, harus betul-betul mengerti serta memahami ada aturan yang begitu rigid."

"Bahkan, kami melihat jenis kategori kekerasan seksual itu banyak sekali banyak perilaku yang dikategorikan itu," kata Muhdi kepada Tribunbanyumas.com, Senin (27/12/2021).

Rektor Universitas PGRI Semarang tersebut mengatakan, masyarakat pendidikan harus mulai memahami perbuatan fisik dan ucapan yang masuk dalam kategori kekerasan seksual.

Sebut saja catcallilng yang ternyata merupakan satu bentuk pelecehan seksual dalam bentuk kekerasan verbal atau kekerasan psikis.

Catcalling biasanya dilakukan di jalanan atau fasilitas umum lainnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved