Berita Batang

Kawah Siglagah Gunung Sipandu Batang Terus Meluas, Ancam 10 Rumah. Warga Masih Enggan Direlokasi

Kawah Siglagah Gunung Sipandu di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, terus meluas dan mengancam 10 rumah.

Penulis: dina indriani | Editor: rika irawati
ISTIMEWA/Dok Pemdes Pranten
Rumah warga Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, terancam longsor setelah terjadi pelebaran kawah Siglagah, Gunung Sipandu. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Kawah Siglagah Gunung Sipandu di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, terus meluas dan mengancam 10 rumah yang ditempati 10 kepala keluarga atau 34 jiwa.

Meski begitu, warga menolak direlokasi meski jarak rumah mereka dari kawah tebing hanya sekitar 10 meter.

Sekretaris Desa Pranten Ela Nurlaila (30) membenarkan hal itu.

"Jumlah jiwa sekitar 34 orang. Kalau hujan, mereka tidak berani di rumah. Mereka memilih berlindung di rumah saudara yg berada dilokasi yang lebih aman," tutur Ela, Minggu (12/12/2021).

Baca juga: Pembangunan Proyek Islamic Center Batang Minus 20 Persen, DPUPR Batang Ancam Blacklist Kontraktor

Baca juga: Viral Video Asisten Pelatih Persibat Batang Tidur saat Laga Melawan Persipa Pati, Begini Faktanya

Baca juga: Viral Video Pengendara Moge Cekcok dengan Sopir Truk, Ternyata Terjadi di Batang. Begini Ceritanya

Baca juga: Pulang Nonton Badminton, Kakek dan Cucu Tertimpa Pohon Tumbang di Sigandu Batang

Ela mengatakan, awalnya, warga antusias mendengar rencana relokasi dan bantuan rumah sistem panel instan (ruspin).

Namun, terjadi miskomunikasi antara desa, BPBD, dan DPRKP hingga akhirnya, warga memutuskan tak pindah dari lokasi tersebut.

"Dulu, (pemilik) 10 rumah itu memang menghendaki relokasi. Tetapi, makin ke sini, mereka berpikir untuk hak atas tanah yang nantinya dibuat relokasi," jelasnya.

"Karena, 10 rumah itu sudah bersertifikat hak milik sedangkan rencana tukar guling antara tanah kas desa dan tanah hak milik warga, butuh proses yang lama," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang Ulul Azmi menjelaskan, pemerintah sudah menyiapkan tanah bengkok desa sebagai tempat relokasi, jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi semula.

Pihaknya juga sudah mendapat dana pembangunan rumah dari pemerintah pusat.

Bahkan, biaya pembangunan tiap unit rumah mencapai puluhan juta rupiah.

Baca juga: Terlalu Mepet Rel saat di Jalan Slamet Riyadi Solo, Mobil Pajero Sport Tertabrak Kereta Jaladara

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Pagi Ini, Senin 13 Desember 2021: Rp 967.000 Per Gram

Baca juga: Cuaca Purbalingga Hari Ini, Senin 13 Desember 2021: Siang Diperkirakan Berawan, Malam Hujan

Baca juga: Cuaca Purwokerto Hari Ini, Senin 13 Desember 2021: Pagi Cerah Berawan, Siang Diperkirakan Berawan

Rencananya, proses pemberian dan pembangunan rumah relokasi itu disertai tukar guling lahan warga namun rencana itu ditolak warga.

"Lahan bengkok harus ada penggantinya, kalau tidak ada tukar guling ya tidak bisa," jelas dia.

Karena penolakan warga itu, kini, dana yang rencananya digunakan untuk pembangunan rumah warga dikembalikan ke pemerintah pusat.

Ia berharap, warga berubah pikiran karena pelebaran kawah Gunung Sipandu masih berlangsung dan membahayakan rumah warga. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved