Berita Kesehatan
Hanya Sekali Suntik, Begini Cara Kerja Vaksin Johnson and Johnson Menurut Dokter Patologi Klinis UNS
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan Vaksin Johnson & Johnson (Janssen) dalam mengantisipasi penularan Covid-19.
TRIBUNBANYUMAS.COM - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan Vaksin Johnson & Johnson (Janssen) dalam mengantisipasi penularan Covid-19.
Berbeda dari vaksin lain yang lebih dulu digunakan di Indonesia, penyuntikan vaksin Johnson & Johnson cukup sekali dilakukan.
Dokter patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto memberikan penjelasan terkait hal ini.
Tonang mengatakan, vaksin Janssen menggunakan metode viral vector.
Metode tersebut sama dengan yang dipergunakan pada vaksin CanSino, AstraZeneca, dan Sputnik.
Seperti diketahui, vaksin AstraZeneca dan Sputnik diberikan lewat dua kali suntikan, sementara vaksin Janssen dan CanSino hanya membutuhkan satu kali suntikan saja.
Baca juga: 1,19 Juta Dosis Vaksin Pfizer Tiba, Kemenkes Targetkan September Vaksinasi Tembus 2,3 Juta Per Hari
Baca juga: Jateng Kini Punya Bus Vaksin, Ganjar Sebut Percepat Vaksinasi Khususnya Buat Daerah Terpencil
Baca juga: Vaksinasi Massal Sasar Penyandang Disabilitas di Pati, Gunakan Vaksin Sinopharm
Baca juga: WHO Waspadai Virus Corona Varian Mu: Ditemukan di Kolombia, Dinilai Kebal terhadap Vaksin
Alasan Johnson & Johnson dan CanSino hanya membutuhkan satu kali suntikan adalah karena kedua vaksin tersebut memiliki adenovirus yang berbeda dengan dua vaksin lainnya.
Tonang menegaskan, pada vaksin Janssen dan CanSino, virus vector-nya adalah adenovirus yang biasa menginfeksi pada manusia, tetapi ringan.
Ketika menjadi vector, maka tubuh membentuk antibodi terhadap vaksin virus Covid-19 yang dititipkan, maupun terhadap virus vector yang membawanya.
Kalau nanti diberikan lagi vaksin yang sama maka virus vector tersebut akan "ditangkap" oleh antibodi yang sudah terbentuk.
"Maka, virus vector tidak bisa menjalankan tugasnya membawa vaksin Covid-19. Itulah mengapa ada beda, pada Janssen dan CanSino hanya diberikan sebagai dosis tunggal," kata Tonang sebagaimana diberitakan Kompas.com, Minggu (12/9/2021).
Sementara itu, pada vaksin AstraZeneca, yang dipergunakan adalah adenovirus yang biasanya menginfeksi simpanse.
Setelah disuntikkan, tubuh manusia membentuk antibodi terhadap vaksin Covid-19 yang dibawa tapi tidak banyak bereaksi terhadap virus vector-nya.
Sedangkan vaksin Sputnik, sebenarnya sama dengan vaksin Janssen dan CanSino, yakni menggunakan adenovirus yang biasa menginfeksi manusia.
Namun, vaksin Sputnik sengaja dibuat dua versi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/ilustrasi-vaksin-covid-19-johnson-johnson-17-november-2020.jpg)