Berita Semarang Hari Ini
Jelang Musim Penghujan, Tujuh EWS Mulai Disiagakan, Berikut Titik Sebarannya di Semarang
Tujuh EWS bakal terpasang di Sungai Plumbon ada dua titik, Sungai Beringin tiga titik, Sungai Pengkol satu titik, dan satu lagi di Sungai Babon.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - 7 early warning system (EWS) di Kota Semarang mulai disiagakan memasuki musim penghujan.
EWS tersebut untuk memantau daerah aliran sungai (DAS) yang ada di Kota Semarang.
Sekretaris BPBD Kota Semarang, Winarsono mengatakan, EWS dilengkapi kamera CCTV.
Fungsinya, untuk memantau debet air secara realtime.
Sehingga, masyarakat dapat mengambil langkah antispasi sebelum terjadi banjir.
Baca juga: Gerbang Dibongkar Biar Lebih Terbuka, Usulan Ganjar Saat Renovasi Masjid Baiturrahman Semarang
Baca juga: Antisipasi Kasus Covid di Sekolah, Dinkes Kota Semarang Lakukan Swab Acak ke Pelajar dan Guru
Baca juga: Pemkot Semarang Tidak Fasilitasi Vaksinasi Peserta CPNS, Hendi: Masa Rp 80 Ribu Nunggu Subsidi
Baca juga: Alami Rem Blong, Truk Tangki Air Tabrak Motor dan Mobil di Sigarbencah Semarang. 4 Orang Tewas
Dia merinci tujuh EWS tersebut terpasang di Sungai Plumbon ada dua titik, Sungai Beringin tiga titik, Sungai Pengkol satu titik, dan satu lagi di Sungai Babon.
Rencananya, pihaknya juga akan memasang EWS di Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur.
Tak hanya di DAS, EWS juga akan dipasang di daerah rawan longsor.
"Khusus longsor, kami akan pasang satu EWS bantuan dari BNPB di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati."
"Saat ini, EWS itu memang belum dipasang karena masih dalam perbaikan," jelasnya kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (10/9/2021).
Disamping menyiagakan EWS, lanjut Winarsono, BPBD akan berkoordinasi dengan organisasi pemerintah daerah (OPD) terkait untuk meningkatkan kewaspadaan bencana.
Semisal pengoptimalan pompa.
BPBD juga terus berkomunikasi dan monitor kondisi masing-masing wilayah.
Kemudian, persiapan peralatan juga dilakukan.
Dia tidak ingin terjadi kekurangan peralatan yang mengakibatkan penanganan bencana menjadi tidak maksimal.