Kamis, 7 Mei 2026

Berita Nasional

Ini Temuan KNKT Soal Penyebab Sering Terjadinya Kecelakaan di Tol Semarang-Solo

Sejumlah kecelakaan maut kerap terjadi di jalan tol Trans Jawa, termasuk ruas Semarang-Solo.

Tayang:
Penulis: hermawan Endra | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/HERMAWAN ENDRA
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dan Wakil Ketua Komite I DPD RI Abdul Kholik, bersama BPJT melihat titik rawan kecelakaan di jalur tol Semarang-Solo, Rabu (8/9/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SALATIGA - Sejumlah kecelakaan maut kerap terjadi di jalan tol Trans Jawa, termasuk ruas Semarang-Solo.

Insiden yang terjadi baru-baru ini, kecelakaan lalu lintas yang dialami Ketua Umum MUI Pusat yang juga Rais Aam BPNU, KH Miftachul Akhyar.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua Komite I DPD RI Abdul Kholik mengirim surat kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Isinya, meminta KNKT segera mengaudit tentang keselamatan jalan tol, khususnya ruas Semarang-Solo yang dinilai rawan kecelakan lalu lintas.

Surat tersebut ditindaklanjuti BPJT dan KNKT dengan meninjau langsung ke sejumlah titik di ruas tol ini, Rabu (8/9/2021).

Baca juga: Ada Tunawisma Kelaparan, Bhabinkamtibmas di Salatiga Telaten Suapi sebelum Bawa ke Rumah Singgah

Baca juga: Dapat Izin dari Satgas Penanganan Covid, Disdik Salatiga Bakal Gelar PTM Mulai 6 September 2021

Baca juga: Wisata Rekomended di Salatiga, Kolam Renang Gratis di Tengah Permukiman, Berisi Ribuan Ikan

Baca juga: Marak Penipuan Berkedok Arisan Online, Polres Salatiga Bentuk Satgas Khusus

Ada sejumlah catatan dari tim di ruas ini, antara lain, terkait jalur penyelamat, rest area atau tempat istirahat, dan proses penanganan kendaraan macet di tol.

"Jalur Semarang-Solo ini kan jalannya naik turun, banyak bermasalah saat turun. Butuh jalur penyelamat. Kami minta untuk Kementerian PUPR membuat standarisasi jalur penyelamat seperti apa," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono saat di rest area Salatiga.

Ia meminta ada inventarisasi jalur penyelamat yang perlu dilakukan perbaikan.

Sesuai pengamatannya, banyak jalur penyelamat yang lokasinya tidak strategis. Misalnya, terletak setelah tikungan atau ada penghalang pandangan semisal di jalur sebelumnya ada jembatan dan sebagainya.

"Jadi, sopir tidak lihat, tahu-tahu kebablasan sehingga tidak masuk jalur penyelamat. Standarisasi bisa dilakukan. Perbaikan dan pengefektifan jalur penyelamat. Kalau ada kekurangan, diperbaiki," jelasnya.

Terkait rest area, Soerjanto menuturkan, saat ini, titik lelah ada di Jawa Tengah, baik kendaraan dari timur atau pun barat.

Karenanya, rest area harus menjadi tempat pengemudi bisa beristirahat sekaligus memperbaiki kerusakan kecil pada kendaraan.

"Dulu, kritikalnya ada di Cipali, pengemudi mulai ngantuk, banyak kecelakan. Sekarang, area itu berpindah ke Jateng. Sekarang bagaimana rest area menarik pengemudi mampir, bisa gerak agar sirkulasi darah lancar," ucapnya.

Kemudian, catatan lain, yakni durasi evakuasi kendaraan macet di jalan tol.

Jika terlalu lama dievakuasi, menurutnya, kendaraan macet itu bisa jadi pemicu kecelakaan.

"Kami minta, dalam waktu 4 jam, bisa dievakuasi. Ada mobil mogok di bahu jalan, 10 menit ditabrak truk, 4 jam ditabrak mobil lain, 10 jam ditabrak bus sampai 10 orang meninggal," katanya.

Menurutnya, evakuasi kendaraan bermasalah di jalan tol atau jalur penyelamat itu bagian dari service atau pelayanan dan kewajiban operator dari jalan tol.

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Pagi Ini, Kamis 9 September 2021: Rp 965.000 Per Gram

Baca juga: Cuaca Purbalingga Hari Ini, Kamis 9 September 2021: Malam Diperkirakan Berawan Tebal

Baca juga: Cuaca Purwokerto Hari Ini, Kamis 9 September 2021: Siang hingga Malam Diperkirakan Berawan

Ia menambahkan, selama ini, biaya evakuasi kendaraan mogok dibebankan ke pengemudi.

Dia ingin, nantinya, ada semacam asuransi yang dimasukan dalam tarif tol terkait biaya evakuasi kendaraan mogok.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite I DPD RI Abdul Kholik, yang juga ikut rombongan inspeksi jalan tol, menuturkan, ia mendapatkan keluhan dari pengemudi terkait fasilitas rest area.

"Pengemudi ingin ada tempat khusus untuk bersitirahat secara nyaman. Sehingga, bisa melepas lelah selama beberapa jam mengemudi, terutama pengemudi angkutan barang yang menyetir jarak jauh," kata Abdul Kholik.

Ia juga berharap, operator jalan tol bisa mendirikan pos keselamatan lalu lintas yang didalam menampilkan terkait informasi berlalu lintas dan semacamnya.

Di sisi lain, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BPJT, Ranto Parlindungan Rajagukguk mengatakan, pihaknya berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada pengguna jalan tol.

"Kami tidak ingin pengguna jalan mengalami kecelakaan. Makanya, kami ada program jalan berkeselamatan. Kecelakaan tergantung dari habit atau kebiasaan pengendara," ucapnya.

Ia mengungkapkan, jalan tol yang bagus membuat sejumlah pengendara terlena dengan kecepatan kendaraan sehingga berpotensi fatal.

Pihaknya juga sudah memasang rambu-rambu dan menerapkan aturan yang bertujuan untuk keselamatam lalu lintas pengendara. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved