Breaking News:

Berita Nasional

Ini Temuan KNKT Soal Penyebab Sering Terjadinya Kecelakaan di Tol Semarang-Solo

Sejumlah kecelakaan maut kerap terjadi di jalan tol Trans Jawa, termasuk ruas Semarang-Solo.

Penulis: hermawan Endra | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/HERMAWAN ENDRA
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dan Wakil Ketua Komite I DPD RI Abdul Kholik, bersama BPJT melihat titik rawan kecelakaan di jalur tol Semarang-Solo, Rabu (8/9/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SALATIGA - Sejumlah kecelakaan maut kerap terjadi di jalan tol Trans Jawa, termasuk ruas Semarang-Solo.

Insiden yang terjadi baru-baru ini, kecelakaan lalu lintas yang dialami Ketua Umum MUI Pusat yang juga Rais Aam BPNU, KH Miftachul Akhyar.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua Komite I DPD RI Abdul Kholik mengirim surat kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Isinya, meminta KNKT segera mengaudit tentang keselamatan jalan tol, khususnya ruas Semarang-Solo yang dinilai rawan kecelakan lalu lintas.

Surat tersebut ditindaklanjuti BPJT dan KNKT dengan meninjau langsung ke sejumlah titik di ruas tol ini, Rabu (8/9/2021).

Baca juga: Ada Tunawisma Kelaparan, Bhabinkamtibmas di Salatiga Telaten Suapi sebelum Bawa ke Rumah Singgah

Baca juga: Dapat Izin dari Satgas Penanganan Covid, Disdik Salatiga Bakal Gelar PTM Mulai 6 September 2021

Baca juga: Wisata Rekomended di Salatiga, Kolam Renang Gratis di Tengah Permukiman, Berisi Ribuan Ikan

Baca juga: Marak Penipuan Berkedok Arisan Online, Polres Salatiga Bentuk Satgas Khusus

Ada sejumlah catatan dari tim di ruas ini, antara lain, terkait jalur penyelamat, rest area atau tempat istirahat, dan proses penanganan kendaraan macet di tol.

"Jalur Semarang-Solo ini kan jalannya naik turun, banyak bermasalah saat turun. Butuh jalur penyelamat. Kami minta untuk Kementerian PUPR membuat standarisasi jalur penyelamat seperti apa," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono saat di rest area Salatiga.

Ia meminta ada inventarisasi jalur penyelamat yang perlu dilakukan perbaikan.

Sesuai pengamatannya, banyak jalur penyelamat yang lokasinya tidak strategis. Misalnya, terletak setelah tikungan atau ada penghalang pandangan semisal di jalur sebelumnya ada jembatan dan sebagainya.

"Jadi, sopir tidak lihat, tahu-tahu kebablasan sehingga tidak masuk jalur penyelamat. Standarisasi bisa dilakukan. Perbaikan dan pengefektifan jalur penyelamat. Kalau ada kekurangan, diperbaiki," jelasnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved