Berita Jawa Tengah
Petugas Temukan Cacing Hati Sapi di Kendal, Ahmad Septian: Sudah Dikubur Karena Tak Layak Konsumsi
"Kami sudah arahkan bagi warga yang tidak memungkinkan melakukan penyembelihan mandiri agar bisa datang ke rumah penyembelihan hewan (RPH)."
Penulis: Saiful Masum | Editor: deni setiawan
"Ini terus kami edukasi kepada masyarakat."
"Bisa juga mengidentifikasi dari awal dengan melihat warna hati yang sudah dipotong, biasanya hati yang kurang sehat berwarna merah hitam."
"Namun tetap harus diperiksa langsung pada hatinya," ujar Septian.

Baca juga: Kemungkinan Terburuk Tertundanya Kick Off Liga 1, Persiapan PSIS Semarang Bakal Mulai Awal Lagi
Baca juga: Fraksi PPP DPRD Jateng Minta Pemerintah Tak Memperpanjang PPKM Darurat
Kasi Kesehatan Hewan DPP Kabupaten Kendal, Sri Wahyuni menyebutkan, pada Iduladha 2020, pihaknya menemukan 44 kasus cacing hati, 3 kasus hepatisasi paru-paru, dan 1 kasus radang paru-paru.
Jumlah ini hasil pemeriksaan 13.620 ekor hewan kurban di 1.754 tempat penyembelihan.
"Kami akan terus melakukan pemeriksaan terhadap hewan kurban yang dilakukan pemotongan sampai selesai."
"Termasuk hewan kurban Bupati Kendal hari ini di rumah dinas," tuturnya kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (21/7/2021).
Panitia penyembelihan hewan kurban di Musala Baitul Muslimin Brangsong, Zainuddin menerangkan, hasil pemeriksaan hati 4 sapi dan 2 kambing oleh petugas, ditemukan satu hati sapi yang terinfeksi cacing.
Atas saran petugas, pihaknya membuang hati sapi yang terinfeksi untuk dikuburkan agar tidak disalahgunakan.
Sementara daging kurban dibagikan langsung ke rumah-rumah warga Brangsong sekitarnya dari pintu ke pintu untuk mengindari kerumunan.
"Kami lakukan penyembelihan di hari pertama biar warga bisa gotong royong."
"Jadi semua bisa ringan dan cepat selesai."
"Yang tidak layak konsumsi dibuang," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (21/7/2021).
Terpisah, Kepala DPP Kabupaten Kendal, Tjipto Wahjono mengatakan, pendataan jumlah hewan kurban di Kabupaten Kendal tahun ini mengalami penurunan 10 persen dari 13.620 ekor menjadi 12.000 ekor.
Penurunan disebabkan beberapa faktor termasuk pandemi Covid-19 yang belum usai.