Breaking News:

Berita Jateng

Tarif Tol Semarang-Solo Resmi Naik di Tengah Pandemi Covid, LP2K: Punya Sensitivitas Nggak?

LP2K mengkritisi kebijakan kenaikan tarif Tol Semarang-Solo yang berlaku mulai Minggu (27/6/2021), pukul 00.00 WIB.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/RUTH NOVITA LUSIANI
Suasana di pintu Tol Bawen terlihat lengang di hari terakhir libur Lebaran, Minggu (16/5/2021) sore. Hanya beberapa kendaraan pribadi yang melintas. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Ngargono mengkritisi kebijakan kenaikan tarif Tol Semarang-Solo yang berlaku mulai Minggu (27/6/2021), pukul 00.00 WIB.

Ngargono mengatakan, kebijakan menaikkan tarif tol dari Rp 65 ribu menjadi Rp 75 ribu untuk jarak terjauh, saat ini, kurang tepat.

"Mestinya, kebijakan penyesuaian tarif itu bisa ditahan dulu. Kebijakan tersebut diberlakukan pengelola jalan tol di tengah kondisi perekonomian masih terpuruk dan daya beli masyarakat yang menurun, jadi momentumnya kurang pas," terangnya saat dihubungi, Minggu (27/6/2021)

Menurutnya, dari aspek regulasi dan beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku pengelola jalan tol Semarang-Solo, memang benar.

Baca juga: Tarif Tol Semarang-Solo Resmi Berlaku Hari Ini, Berikut Daftarnya

Baca juga: Tarif Tol Semarang-Solo Naik Rp 10 Ribu, Penyesuaian Berlaku Mulai Minggu 27 Juni 2021

Baca juga: Tarif Tol Semarang-Solo Naik 27 Juni, DPRD Jateng: Batalkan, Sampai Kondisi Lebih Baik!

Baca juga: Tarif Tol Semarang-Bakal Juga Bakal Alami Penyesuaian, PT JSB: Dalam Waktu Dekat Ini

Tetapi, waktunya dirasa tidak tepat lantaran berlaku di tengah kondisi ekonomi warga yang belum pulih akibat pandemi Covid-19.

"Maka, tidak ada salahnya, pengelola jalan tol juga memberikan semacam dispensasi atau relaksasi terlebih dahulu agar kebijakan itu diberlakukan dalam situasi yang lebih baik," katanya.

Ia menyatakan, PT TMJ diharap dapat mencontoh kebijakan PLN yang memberikan keringanan kepada pelanggan yang terimbas pandemi Covid-19.

"Jadi, bahasanya itu, mereka punya sensitivitas atau nggak, dalam kondisi perekonomian yang masih seperti ini?" katanya.

Pihaknya menilai, kenaikan tarif tol di tengah situasi pandemi Covid-19 juga membuat para pengusaha angkutan barang dilematis.

Terlebih lagi, persentase tertinggi penyesuaian atau kenaikan tarif jalan tol tersebut bakal dirasakan kendaraan golongan besar (Golongan IV dan V) yang biasanya digunakan dunia usaha.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved