Berita Banjarnegara Hari Ini

Semoga Ada Dermawan Buat Jirno, Difabel Asal Banjarnegara Ini Butuh Biaya Tambahan Modifikasi Motor

Di sebuah jalan turunan, kendaraan pengangkut ban yang ditumpanginya tiba-tiba hilang kendali, hingga mengalami kecelakaan.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/KHOIRUL MUZAKKI
Jirno (45), warga Desa Kutawuluh, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara.  

Jirno menjadi lebih rajin beribadah. 

Jirno bersyukur, dengan keadaanya sekarang, ia menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Dia tak lagi butuh pereda nyeri saat merasakan sakit.

Cukup istighfar baginya untuk menghilangkan perih. 

"Kalau pereda nyeri hanya bertahan beberapa jam."

"Saya memperbanyak istighfar, tidur bisa nyenyak tanpa obat," katanya.

Baca juga: Perawat di RSDC Wisma Atlet asal Cilacap Meninggal Tertular Covid, Kadinkes: Pernah Bertugas di RSUD

Baca juga: Ngakunya Dapat Bisikan Tuhan, Pria Paruh Baya di Desa Semanding Kebumen Ini Bacok Tetangganya

Modifikasi Motor

Di luar kepasrahannya kepada Tuhan, Jirno berusaha untuk bangkit.

Ia harus menanggung nafkah bagi istri dan anaknya.

Semenjak hari-harinya di kursi roda, istrinya harus lebih keras bekerja.

Perempuan itu harus menggarap ladang, bahkan mencangkul sendiri lahannya. 

Jirno merasa kasihan, namun ia sendiri tak berdaya.

Karenanya, di tengah keterbatasannya, ia harus bekerja.

Ia mulai belajar membuat kerajinan pot dari sabut kelapa.

Meski hasilnya belum seberapa, Jirno merasa hidupnya lebih terhormat dengan bekerja.

Dibanding ia harus berpangku tangan, atau bergantung belas kasihan orang. 

Untuk mendukung usahanya, Jirno berkeinginan memiliki motor roda tiga.

Dengan kendaraannya itu, ia ingin menjajakan langsung dagangannya.

Masalahnya, untuk memodifikasi motor untuk difabel, butuh biaya cukup mahal.

Ia sudah menitipkan motor seharga Rp 3 juta di bengkel agar dimodifikasi sesuai kebutuhannya. 

Hanya ia masih bingung untuk menebus motornya jika telah jadi nanti. 

"Biaya modifnya Rp 7 juta."

"Saya belum ada uang untuk mengambilnya di bengkel," katanya.

Jirno bahkan tidak memiliki rumah sendiri.

Dia harus tinggal menumpang di rumah saudaranya.

Sementara istri dan anaknya tinggal bersama orangtua. 

Ironisnya, keluarga itu tidak mendapatkan program perlindungan sosial, semisal Progam Keluarga Harapan (PKH).

Padahal mereka sangat membutuhkan.

Terlebih anaknya semakin besar hingga butuh biaya pendidikan. 

"Saya tidak dapat PKH, kalau bantuan Covid-19 dapat," katanya. (Khoirul Muzakki)

Baca juga: Hasil Tes Genome Sequencing Sudah Keluar, Dinkes Jateng: Varian Delta Baru Ditemukan di Kudus

Baca juga: Tarif Tol Semarang-Solo Naik 27 Juni, DPRD Jateng: Batalkan, Sampai Kondisi Lebih Baik!

Baca juga: PSIS Semarang Sediakan Layanan Streaming Berbayar, Minggu 27 Juni 2021 Lawan PSIM Yogyakarta

Baca juga: Arief Rohman Usul Nama Abdurrahman Wahid Jadi Nama Bandara di Blora, Respon Ganjar: Saya Setuju

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved