Berita Banjarnegara Hari Ini
Semoga Ada Dermawan Buat Jirno, Difabel Asal Banjarnegara Ini Butuh Biaya Tambahan Modifikasi Motor
Di sebuah jalan turunan, kendaraan pengangkut ban yang ditumpanginya tiba-tiba hilang kendali, hingga mengalami kecelakaan.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Merantau bukan pilihan mudah bagi setiap orang.
Ada keluarga yang ditinggalkan.
Sepahit apapun pekerjaan itu harus dijalankan.
Tetapi semua itu dilakukan demi kebutuhan.
Begitupun yang dialami Jirno (45), warga Desa Kutawuluh, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara.
Baca juga: Terima Kasih RSI Banjarnegara, Kista Seberat 12 Kilogram di Perut Riswati Berhasil Dikeluarkan
Baca juga: Pemkab Banjarnegara Serahkan Bantuan Perbaikan Rumah Korban Bencana, Total Rp 399 Juta
Baca juga: Kecuali Candi Arjuna, Dinas Pariwisata Banjarnegara Pastikan Tempat Wisata Dieng Tetap Buka
Baca juga: Jika Proyek Jembatan Plipiran Banjarnegara Selesai, Menuju Dieng Jadi Lebih Cepat, Tak Sampai Sejam
Hasil panen kangkung di lahannya tak sesuai harapan.
Dia menderita kerugian.
Usaha pertanian di desa kian susah diandalkan.
Jika ia bertahan, perekonomiannya tak akan berkembang.
Hingga ia memutuskan merantau ke Kalimantan.
Dia mendapat tawaran untuk bekerja di perkebunan sawit.
Dia tak menyiakan kesempatan itu.
Jirno rela meninggalkan anak istri demi sebuah tujuan, mengubah nasib.
"Saya merantau ingin mengubah nasib," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (25/6/2021).
Jirno bekerja sebagai operator alat berat.
Mulanya, semuanya berjalan baik-baik saja.
Dia nyaman dengan pekerjaannya.
Tapi suatu ketika, saat dia bersemangat bekerja, ban alat beratnya kempes.
Dia menghubungi workshop (bengkel) kantor untuk mengganti ban.
Ban berukuran jumbo diangkut ke bak motor roda tiga.
Ia ikut menumpang di dalamnya.
Ternyata ban yang akan diambil dari bengkel tidak cocok ketika dipasang.
Mereka lantas kembali ke bengkel untuk menukar ban.
Siapa sangka petaka sedang mengintainya.
Di sebuah jalan turunan, kendaraan pengangkut ban yang ditumpanginya tiba-tiba hilang kendali, hingga mengalami kecelakaan.
Seluruh penumpang terpental, termasuk Jirno yang jatuh ke dalam parit.
Semuanya seketika gelap.
Jirno tak sadarkan diri.
Saat ia jatuh terbaring ke dasar parit, ban alat berat terjun menimpa dadanya.
Tulang punggungnya luka.
"Saya merantau untuk mengubah nasib, ternyata Allah mengubah nasib saya, menjadi seperti ini, " katanya.
Sempat koma beberapa hari, di rumah sakit, Jirno akhirnya tersadar.
Dia seperti diberi kehidupan kedua.
Tetapi ia harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.
Punggungnya yang patah harus dipasang pen.
Kakinya tak lagi bisa digerakkan.
Jirno akhirnya dibawa pulang ke Banjarnegara.
Kepulangannya ternyata pula membawa duka.
Asa memperbaiki nasib di tanah rantau patah.
Mental Jirno sempat terpuruk.
Dia sempat tak bisa menerima keadaan yang tak berpihak kepadanya.
Dia sering meringis menahan sakit, sampai kesulitan tidur, kecuali hanya empat jam setelah meminum obat penahan nyeri.
Perlahan ia bisa menerima keadaan.
Dia bersyukur diberi kehidupan, apapun kondisinya.
Dia sadar, ada kehidupan abadi di luar dunia yang fana.
Jirno menjadi lebih rajin beribadah.
Jirno bersyukur, dengan keadaanya sekarang, ia menjadi lebih dekat dengan Tuhan.
Dia tak lagi butuh pereda nyeri saat merasakan sakit.
Cukup istighfar baginya untuk menghilangkan perih.
"Kalau pereda nyeri hanya bertahan beberapa jam."
"Saya memperbanyak istighfar, tidur bisa nyenyak tanpa obat," katanya.
Baca juga: Perawat di RSDC Wisma Atlet asal Cilacap Meninggal Tertular Covid, Kadinkes: Pernah Bertugas di RSUD
Baca juga: Ngakunya Dapat Bisikan Tuhan, Pria Paruh Baya di Desa Semanding Kebumen Ini Bacok Tetangganya
Modifikasi Motor
Di luar kepasrahannya kepada Tuhan, Jirno berusaha untuk bangkit.
Ia harus menanggung nafkah bagi istri dan anaknya.
Semenjak hari-harinya di kursi roda, istrinya harus lebih keras bekerja.
Perempuan itu harus menggarap ladang, bahkan mencangkul sendiri lahannya.
Jirno merasa kasihan, namun ia sendiri tak berdaya.
Karenanya, di tengah keterbatasannya, ia harus bekerja.
Ia mulai belajar membuat kerajinan pot dari sabut kelapa.
Meski hasilnya belum seberapa, Jirno merasa hidupnya lebih terhormat dengan bekerja.
Dibanding ia harus berpangku tangan, atau bergantung belas kasihan orang.
Untuk mendukung usahanya, Jirno berkeinginan memiliki motor roda tiga.
Dengan kendaraannya itu, ia ingin menjajakan langsung dagangannya.
Masalahnya, untuk memodifikasi motor untuk difabel, butuh biaya cukup mahal.
Ia sudah menitipkan motor seharga Rp 3 juta di bengkel agar dimodifikasi sesuai kebutuhannya.
Hanya ia masih bingung untuk menebus motornya jika telah jadi nanti.
"Biaya modifnya Rp 7 juta."
"Saya belum ada uang untuk mengambilnya di bengkel," katanya.
Jirno bahkan tidak memiliki rumah sendiri.
Dia harus tinggal menumpang di rumah saudaranya.
Sementara istri dan anaknya tinggal bersama orangtua.
Ironisnya, keluarga itu tidak mendapatkan program perlindungan sosial, semisal Progam Keluarga Harapan (PKH).
Padahal mereka sangat membutuhkan.
Terlebih anaknya semakin besar hingga butuh biaya pendidikan.
"Saya tidak dapat PKH, kalau bantuan Covid-19 dapat," katanya. (Khoirul Muzakki)
Baca juga: Hasil Tes Genome Sequencing Sudah Keluar, Dinkes Jateng: Varian Delta Baru Ditemukan di Kudus
Baca juga: Tarif Tol Semarang-Solo Naik 27 Juni, DPRD Jateng: Batalkan, Sampai Kondisi Lebih Baik!
Baca juga: PSIS Semarang Sediakan Layanan Streaming Berbayar, Minggu 27 Juni 2021 Lawan PSIM Yogyakarta
Baca juga: Arief Rohman Usul Nama Abdurrahman Wahid Jadi Nama Bandara di Blora, Respon Ganjar: Saya Setuju