Berita Semarang Hari Ini
Cerita Transpuan Ubah Salon Jadi Tempat Ngaji di Semarang, Mbak Wolly: Sebagai Ladang Ibadah
Seorang ibu rumah tangga, Mega (23), merasa betah belajar mengaji di tempat Silvi lantaran sudah tahu kemampuanya dalam mengajar mengaji.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: deni setiawan
Dia mengatakan, tak memandang soal kondisi Silvi sebagai seorang transpuan.
Baginya, selama orang tersebut mau berbagi kebaikan secara ikhlas, tak perlu dipandang statusnya.
"Sebagai tetangga saya sudah kenal siapa dia, jadi tak ada masalah," terangnya.
Dia melanjutkan, belajar mengaji di tempat tersebut mulai masa pandemi Covid-19.
Belajar mengaji dilakukan jelang magrib sekira pukul 17.00.
Akan tetapi selama Ramadan jadwal dimajukan tepat bada Asar sekira pukul 15.00.
"Kalau Silvi ada job rias di luar kami libur," terangnya.
Sementara itu, Silvi Mutiari menjelaskan, mengajar mengaji kepada para ibu dan anak di lingkungan sekitarnya bukanlah kemauannya.
Aktivitas mengajar mengaji tersebut bermula saat ustadzah di kampungnya memilih tak mengajar lantaran pandemi Covid-19.
Para tetangga di dekat rumahnya lantas menunjuknya untuk mengajar mengaji ke anak-anak dan para ibu.
"Mereka tak mau adanya pandemi lalu libur mengaji."
"Mereka lantas menujuk saya untuk mengajari ngaji," terang Ketua Persatuan Waria Semarang (Perwaris) Kota Semarang itu.
Dia mengatakan, anak-anak yang belajar mengaji di tempatnya ada empat orang.
Sedangkan para ibu ada sekira 10 orang.
Tak hanya belajar mengaji, mereka juga rutin melakukan kegiatan rutin berupa yasinan dan tahlilan.

Baca juga: Bantuan Sosial Tunai Rp 600 Ribu di Banyumas Cair, Bupati Prediksi Pusat Perbelanjaan Bakal Ramai
Baca juga: Dinkes Banyumas Berencana Buka Layanan Vaksinasi Covid Seusai Tarawih, Ini Pertimbangannya