Breaking News:

Kudeta Myanmar

Kondisi Myanmar Memanas, 38 Demonstran Tewas dalam Sehari saat Aksi Protes Kudeta Militer

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan, ada 38 warga yang tewas dalam aksi memprotes kudeta militer, Rabu (3/3/2021).

Kompas.com/AP Photo
Gambar yang diambil dari cuplikan video memperlihatkan massa menuju Yangon, Myanmar, pada Sabtu (6/2/2021) untuk menentang kudeta. Pada Minggu (7/2/2021), di Myanmar pecah demo terbesar sejak 2007. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, NEW YORK - Aksi demonstrasi di Myanmar memakan banyak korban jiwa. Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan, ada 38 warga yang tewas dalam aksi memprotes kudeta militer, Rabu (3/3/2021).

Ini menjadi hari paling kejam sejak demonstrasi menentang kudeta militer pertama kali meletus pada bulan lalu.

Melansir Reuters yang mengutip penuturan sejumlah saksi mata, polisi dan tentara melepaskan tembakan berpeluru tajam, dengan sedikit peringatan.

Pertumpahan darah terjadi satu hari setelah negara-negara tetangga menyerukan pengekangan pasca militer menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi.

"Mengerikan, ini pembantaian. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan situasi dan perasaan kami," kata aktivis pemuda Thinzar Shunlei Yi kepada Reuters, melalui aplikasi perpesanan.

Baca juga: Buntut Kudeta Militer, Warga Myanmar Lakukan Unjuk Rasa Inginkan Pembebasan Aung San Suu Kyi

Baca juga: Penggerebekan Dini Hari, Militer Myanmar Tangkap Aung San Suu Kyi dan Politisi Senior Partai NLD

Menurut sebuah badan organisasi bantuan, korban tewas termasuk empat orang anak. Sementara, media lokal memberitakan, ratusan pengunjuk rasa ditangkap.

"Hari ini adalah hari paling berdarah sejak kudeta terjadi pada tanggal 1 Februari. Kami memiliki hari ini-hanya hari ini-38 orang meninggal. Kami sekarang memiliki lebih dari 50 orang tewas sejak kudeta dimulai, dan banyak yang terluka," utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengatakan di New York.

Seorang juru bicara dewan militer Myanmar yang berkuasa, tidak menjawab panggilan telepon dari Reuters.

Schraner Burgener mengatakan bahwa dalam percakapan dengan wakil panglima militer Myanmar Soe Win, dia telah memperingatkan bahwa militer kemungkinan besar akan menghadapi tindakan keras dari beberapa negara dan isolasi sebagai pembalasan atas kudeta tersebut.

"Jawabannya adalah: 'Kami terbiasa dengan sanksi dan kami selamat'," katanya kepada wartawan di New York.

Halaman
123
Editor: rika irawati
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved