Berita Internasional
Surat Diduga Berisi Racun Dikirim ke Presiden Tunisia, Kepala Staf Presiden Terluka
Surat diduga mengandung racun dikirim kepada Presiden Tunisia Kais Saied. Racun itu akhirinya melukai kepala staf presiden.
TRIBUNBANYUMAS.COM, TUNIS - Surat diduga mengandung racun dikirim kepada Presiden Tunisia Kais Saied. Racun tersebut melukai kepala staf Presiden Tunisia yang lebih dulu membuka surat mencurigakan tersebut.
Kepala staf presiden bernama Nadia Akacha segera dirawat di rumah sakit setelah menerima surat yang ditujukan kepada kepala negara Kais Saied, ungkap kantor Presiden Tunisia, Kamis (28/1/2021).
Melansir kantor berita AFP, Akacha membuka amplop surat yang ditujukan kepada Saied namun ternyata amplop itu kosong.
Akacha lalu menderita penglihatan kabur sesaat dan sakit kepala. Dia sempat dirawat di rumah sakit setelah insiden itu, menurut pernyataan dari kepresidenan.
• Menko PMK Muhajir Effendy Ajak Penyintas Covid Donorkan Plasma Darahnya: Terbukti Manjur
• Mulai Besok, Alun-alun Pemalang Ditutup Setiap Sabtu Malam hingga Minggu Pagi. Begini Alasannya
• Wajib Dicoba, Getuk Saus Alpukat Asal Desa Kajar Kudus yang Bakal Ikut Festival Kuliner di Slovenia
• Dalam Dua Pekan, Tiga TKW Asal Cilacap dan Banyumas Meninggal di Hong Kong
Dia dipulangkan pada Rabu namun masih menderita sakit kepala dan diawasi oleh pihak medis.
Pegawai kepresidenan lain yang berada di ruangan yang sama dengan Akacha ketika membuka amplop memiliki gejala yang serupa namun dengan intensitas yang lebih rendah.
Media Tunisia mengatakan, surat itu mungkin mengandung risin, racun yang bisa mematikan dalam dosis tinggi.
Kepresidenan tidak mengatakan kapan insiden itu terjadi, tetapi menekankan bahwa Saied tidak melakukan kontak dengan amplop tersebut.
Kepala negara Tunisia itu dikabarkan dalam keadaan sehat.
Pihak berwenang telah meluncurkan penyelidikan untuk menganalisis isi amplop dan menunggu hasilnya, kata jaksa Tunis Mohsen Dali.
Dan sejauh ini belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan.
Ketegangan tinggi terjadi di Tunisia, menyusul perselisihan mengenai perombakan kabinet dan meningkatnya kerusuhan yang telah membuat demonstran turun ke jalan untuk protes melawan kemiskinan, pengangguran dan represi polisi.
Saied mengatakan, dia tidak diajak berkonsultasi tentang perombakan kabinet pada Selasa, di mana Perdana Menteri Hichem Mechichi menunjuk 11 menteri baru untuk jabatan dalam negeri, keadilan, kesehatan dan jabatan penting lainnya.
• Bawaslu Jateng Dinobatkan sebagai Badan Publik Paling Informatif se-Indonesia
• Hilang di Sungai Kalibebeng, Santri Ponpes di Subah Batang Ditemukan Tewas di Pantai Roban
• Sungai Ijo di Sampangan Kota Pekalongan Meluap Lagi, 101 Warga Diungsikan di Tiga Titik
• Tak Punya Uang untuk Judi Togel, Warga Ambal Nekat Curi Kambing. Kecanduan Judi Sejak Remaja
Presiden, seorang akademisi independen, menuding salah satu menterinya terlibat kasus korupsi dan tiga lainnya diduga bentrok kepentingan.
Ketegangan politik juga melibatkan perebutan kekuasaan antara Saied dan gerakan Ennahdha yang diilhami Islamis, yang menjadi pemenang dalam pemilihan parlemen Oktober 2019. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Buka Amplop yang Diduga Beracun, Kepala Staf Presiden Tunisia Dilarikan ke Rumah Sakit".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/presiden-tunisia-kais-saied-saat-memberi-kuliah-umum.jpg)