Breaking News:

Berita Pendidikan

Berbekal Baterai dan Sling Baja, Mahasiswa Unsoed Purwokerto Ciptakan Alat Deteksi Dini Longsor

Saat ditemui di kampusnya, Tito menjelaskan, alat buatannya ini merupakan pengembangan dari alat sistem peringatan dini yang sudah ada.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/PERMATA PUTRA SEJATI
Tito Yudatama (kanan), mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), menunjukan alat deteksi dini longsor yang ekonomis bersama rekannya, Rabu (27/1/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Bencana pergerakan tanah yang akhir-akhir terjadi di sejumlah desa di Banyumas, mendorong Tito Yudatama (22), mahasiswa Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menciptakan alat deteksi dini longsor yang ekonomis.

Tito yang tergabung dalam Tim Kolaborasi Pemuda Bersedekah berkreativitas merakit alat pendeteksi dini longsor yang mudah dibuat masyarakat, tentunya dengan harga terjangkau.

Selama kurang lebih dua bulan, dia melakukan ujicoba dan riset.

Saat ditemui di kampusnya, Tito menjelaskan, alat buatannya ini merupakan pengembangan dari alat sistem peringatan dini yang sudah ada.

6 Rumah Paling Terdampak Tanah Gerak di Karanglewas Banyumas, Pemdes Kesulitan Cari Lokasi Relokasi

Dinding Rumah Mulai Retak Akibat Tanah Gerak, 40 Rumah di Cibangkong Banyumas Terancam Ambruk

Lewat Pemkab, Perbarindo Banyumas Salurkan Bantuan Sembako Senilai Rp 25 Juta bagi Warga

Peternakan Ayam di Lumpakuwus Banyumas Terancam Tutup, Pegawai Protes. Berawal dari Kasus Izin Usaha

Namun alat deteksi pergerakan tanah ini dibuat secara lebih sederhana agar masyarakat bisa membuat secara mandiri sehingga bisa hidup berdampingan dengan bencana.

"Komponennya itu berupa baterai 9 volt, boks hitam untuk membungkus komponen berbahan plastik, pasak, lalu sirine berukuran kecil, dan tali sling baja. Panjang tali sling baja ini menyesuaikan jarak lokasi yang akan dipasangi alat dengan titik yang diteliti," jelasnya, Rabu (27/1/2021).

Tito menjelaskan, alat buatannyaya memiliki cara kerja sederhana, yakni apabila pasak yang dipasang bergeser menjauhi sumber alat yang dipasang maka jek akan tercabut dan memicu suara sirine.

Menurutnya, alat buatannya ini cocok untuk skala kecil, kurang lebih 100 meter dari lereng menuju permukiman.

Namun, kurang cocok skala besar yang jaraknya jauh dari permukiman karena terbatas menggunakan sirine kecil.

Cara kerja alat ini merupakan secara mekanis yang diberi komponen kelistrikan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved