Kamis, 23 April 2026

Berita Banjarnegara

Ini Keprihatinan Pengrajin Batik Banjarnegara di Hari Batik Nasional

pengrajin batik dari Kelompok Giri Alam Desa Gumelem Wetan, Kabupaten Banjarnegara ikut merasakan dampak pandemi terhadap usaha kelompoknya.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/KHOIRUL MUZAKKI
Beberapa pemuda memamerkan batik khas Gumelem Kabupaten Banjarnegara, Jumat (2/10/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Di tengah euforia masyarakat merayakan Hari Batik Nasional, para pengrajin di sentra industri batik Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara masih harus di tengah nuansa yang penuh keprihatinan.

Sebagaimana sektor usaha lain, pandemi Covid 19 membuat industri batik terpuruk.

Daya beli masyarakat menurun.

Minat masyarakat untuk berbelanja batik pun rendah karena perekonomian sedang susah.

Masih Pandemi, Begini Cara Dindukcapil Banjarnegara Sampaikan Informasi Adminduk Kepada Masyarakat

Mulai 1 Oktober, RSU PKU Muhammadiyah Banjarnegara Layani Pasien BPJS Kesehatan

Bupati Janji Bakal Launching Kentang Lampeng Asli Banjarnegara: Biar Dikenal Lebih Luas

Relawan Banjarnegara Galang Donasi Ringankan Beban Petani Sayur, Begini Cara Mereka Melakukannya

Waridah, pengrajin batik dari Kelompok Giri Alam Desa Gumelem Wetan ikut merasakan dampak pandemi terhadap usaha kelompoknya.

Dia bersama kelompoknya selama ini memproduksi batik, baik batik tulis, cap, hingga ecoprint dengan motif klasik maupun kontemporer.

"Adanya Covid-19, kami mengalami penurunan omset," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (2/10/2020).

Di masa pandemi, jumlah pesanan produk batik terus menurun.

Omset penjualan merosot tajam hingga 90 persen.

Bukan hanya sepi penjualan, berbagai kegiatan yang mendukung ekonomi pengrajin pun ikut sepi.

Biasanya, kelompoknya menerima kunjungan tamu dari luar kota hingga mancanegara untuk belajar atau melihat langsung proses membatik yang unik.

Pihaknya juga biasa diundang dalam kegiatan pelatihan membatik, semisal di sekolah.

Tetapi Waridah memaklumi kondisi itu.

Di masa pandemi, masyarakat banyak mengurangi aktivitas keluar atau berkerumun untuk mencegah penularan corona.

"Penurunan omset sampai 90 persen," katanya.

Karena minim permintaan, pihaknya terpaksa sempat lama tak berproduksi.

Pihaknya hanya mengandalkan stok lama yang masih tersedia jika pesanan datang.

Beruntung anggota kelompok masih bisa bekerja di sektor pertanian, baik petani atau buruh tani saat produksi batik terhenti.

Sehingga ekonomi mereka masih tertolong di masa pandemi.

Berbulan-bulan terpuruk, sejak April 2020, kini industri batik Gumelem mulai bangkit kembali.

Di era new normal, September 2020, pesanan mulai berdatangan, meski belum banyak.

Ini kabar baik bagi pengrajin yang lama terdampak pandemi.

Mereka kembali bergairah membatik untuk melayani pesanan pelanggan.

"Bulan ini mending, sudah mulai ada pesanan lagi," katanya. (Khoirul Muzakki)

Dandim Banyumas: Kami Siap Distribusikan Lagi Jika Masih Velbed, Buat Pasien yang Dikarantina

Tanggapi Banyak Santri Terpapar Covid-19, FKPP Banyumas: Itu Bukan Aib, Jadi Tak Perlu Resah

Janda Bolong Makin Susah Dicari di Banyumas, Berikut Kisaran Harga Jual Tanaman Hias yang Viral Itu

DPO 10 Tahun Akhirnya Tertangkap di Secang Magelang: Kajari Purwokerto: Kasus Penipuan Mirip MLM

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved