Breaking News:

Kasus Keraton Agung Sejagat

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Divonis Hukuman 4 dan 1,5 Tahun Penjara

Majelis hakim menghukum Toto yang mengaku sebagai raja KAS selama 4 tahun penjara dan menghukum Fanny sebagai ratu KAS selama 1,5 tahun penjara.

TRIBUNBANYUMAS/Istimewa
Terdakwa kasus Keraton Agung Sejagat Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41), mengikuti sidang putusan secara online di Pengadilan Negeri (PN) Purworejo, Selasa (15/9/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOREJO - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Purworejo menyatakan, Totok Santoso (43) dan Fanny Aminadia (42) bersalah melakukan penyebaran berita bohong yang menimbulkan keonaran atas munculnya Keraton Agung Sejagad (KAS) di Purworejo.

Majelis hakim menghukum terdakwa Toto Santoso yang mengaku sebagai raja KAS selama 4 tahun penjara dan menghukum Fanny Aminadia sebagai ratu KAS selama 1,5 tahun penjara.

"Iya, hari ini sidang putusan. Putusannya, terdakwa I (Toto Santoso) selama 4 tahun penjara dan terdakwa II (Fanny Aminadia) selama 1,5 tahun," kata penasehat hukum kedua terdakwa, Muhammad Sofyan, saat dihubungi Tribunbanyumas.com, Selasa (15/9/2020).

 

Kabar Terbaru Fanni Ratu Keraton Agung Sejagat di Balik Jeruji Penjara, Sering Minta Buku dan Pulpen

Cerita Ganjar Dikirimi Pesan Ratu Keraton Agung Sejagat: Saya Tanya, Sampai Sekarang Gak Dibalas

Toto Santoso Raja Keraton Agung Sejagat Pernah di Sunda Impire, tapi Dikeluarkan

Dalam putusan majelis hakim yang diketuai Sutarno, kedua terdakwa terbukti bersalah sebagaimana dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) yaitu melanggar Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

"Hakim menyatakan, kedua terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti menyebarkan berita bohong dan turut serta dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat sebagaimana terdapat dalam dakwaan JPU," ujarnya.

Atas putusan tersebut, Sofyan menyatakan pikir-pikir terlebih dahulu. Sehingga, masih ada waktu 7 hari apakah nantinya menerima atau mengajukan banding atas putusan tersebut.

Saat ditanya rencana banding, Sofyan mengatakan, rencananya dirinya akan mengajukan banding namun terlebih dahulu akan berkoordinasi dengan kedua terdakwa yang saat ini berada di dalam tahanan.

"Klien kami menganggap hakim mengabaikan fakta-fakta yang terungkap di dalam persidangan sehingga tidak memenuhi rasa keadilan," ujarnya.

Ahok Usulkan Kementerian BUMN Dibubarkan, Ini Alasannya

Dapat Souvenir Uang Pecahan Rp 75 Ribu, Ini Permintaan Bupati Kebumen ke BI Jateng

5 Hari Pencarian, Tim SAR Temukan Mahasiswa Asal Banyumas yang Tenggelam di Pantai Logending

Terkait fakta persidangan yang diabaikan, lanjutnya, di antaranya keterangan saksi-saksi yang meringankan (ad charge) ahli, dan bukti bukti yang diajukan kedua terdakwa. Majelis hakim hanya mempertimbangkan keterangan ahli yang diajukan JPU.

"Padahal di persidangan, semua ahli JPU tersebut bisa dipatahkan oleh keterangan ahli yang dihadirkan terdakwa," lanjutnya.

Putusan yang dijatuhkan majelis hakim sebenarnya lebih ringan dari tuntutan dari JPU yang menuntut majelis hakim menjatuhkan pidana penjara kepada Toto Santoso selama 5 tahun dan Fanny 3,5 tahun penjara. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved