Berita Viral

Viral APD Warna-warni Dokter Gigi di Malang, Pasien Merasa Nyaman dan Senang

Ide-ide kreatif bisa saja muncul di waktu pandemi seperti saat ini. Salah satunya datang dari seorang dokter gigi, Nina Agustin (34).

Editor: Rival Almanaf
Kompas.com
Nina Agustin, dokter gigi di Kota Malang dengan kostum hazmat fashionable di klinik miliknya, Esthetic Dental Clinic (EDC) Kota Malang, Kamis (23/7/2020)(KOMPAS.COM/ANDI HARTIK) 

TRIBUNBANYUMAS.COM, MALANG - Ide-ide kreatif bisa saja muncul di waktu pandemi seperti saat ini.

Salah satunya datang dari seorang dokter gigi, Nina Agustin (34).

Pemilik klink gigi di Kota Malang dan Pasuruan itu mendadak viral.

Ia banyak dibicarakan karena mengenakan APD yang fashionable.

GOR Satria Purwokerto Dibuka untuk Umum Tapi Terbatas, Belum Diizinkan Gelar Event Besar

Persebaya Surabaya Belum Sepakat Liga 1 Digelar Oktober, PSSI Coba Merayu Gunakan Cara Ini

Ini Dua Amunisi Baru Bali United, Yabes Tanuri: Pemain Muda yang Kami Beri Kontrak Profesional

Pemain Muda PSIS Semarang Ini Dapat Wejangan Khusus, Trik Pikat Hati Shin Tae-yong

Saat dijumpai di klinik miliknya, Esthetic Dental Clinic (EDC), Jalan Raya Telaga Golf Nomor 1 Araya Kota Malang, Kamis (23/7/2020), hazmat yang dikenakan masih melekat di tubuhnya.

Hazmat itu yang membuat dirinya memicu banyak perhatian.

Tidak seperti hazmat kebanyakan yang berwarna putih polos dan berukuran besar, hazmat yang dikenakan oleh Nina berwarna-warni dengan motif tertentu dan sesuai dengan ukuran bentuk tubuhnya.

Hasilnya, lulusan Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu terlihat fashionable meski berbalut APD.

Nina memastikan, hazmat yang dipakainya sesuai dengan APD level 3 yang harus digunakan oleh dokter gigi saat menjalankan prakteknya.

“Jadi, dokter gigi harus memproteksi dirinya dengan APD level 3, dengan menggunakan full hazmat, over all menutupi segalanya. Muka juga harus ada pelindungnya,” kata dia.

Semula, setelah kliniknya buka kembali usai tutup dua minggu akibat pandemi, dirinya mengenakan hazmat yang seperti biasanya.

Lalu dia berinisiatif untuk membuat hazmat sendiri akibat pandemi yang tidak kunjung usai.

Alasannya, dia ingin melayani pasien dengan nyaman dan pasiennya juga merasa nyaman dengan APD yang dikenakannya.

Akhirnya, dia membuat hazmat warna-warni dengan motif tertentu dan sesuai dengan ukuran tubuhnya.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved