Selasa, 28 April 2026

Berita Kriminal

Bermodus Penertiban PSBB, Polisi Gadungan Culik Dua Remaja dan Rampas Ponsel Mereka

Aksi penipuan bermodus penertiban pelanggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terjadi.

Editor: Rival Almanaf
Kompas.com
Polisi gadungan (pria yang menunduk) yang berniat mencuri handphone milik dua anak SMP diamankan polisi di Polres Depok, Kamis (14/5/2020).(KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PROJO) 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Aksi penipuan bermodus penertiban pelanggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terjadi.

Seorang laki-laki, I (25) berpura-pura menjadi polisi untuk menangkap dua anak SMP berinisial A (13) dan N (13) di Depok, Jawa Barat.

Ia tak segan-segan untuk terus menyakinkan korbannya untuk ditangkap dan dibawa ke lokasi karantina di Jakarta Pusat.

I menjalankan aksinya pada siang hari di sekitar pukul 11.30 WIB di area Depok tepatnya di Taman Merdeka.

Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Ini Purwokerto Banyumas Ramadan Hari ke-22, Jumat 15 Mei 2020

11 ABK KM Saridin yang Terbalik di Laut, Berhasil Dievakuasi dengan Keadaan Selamat

Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Ini di Purbalingga

Lima Petugas TNMB Dilarikan ke Rumah Sakit, Buntut Aksi Anarkis Massa di Banyuwangi

Hari itu, A dan N adalah korban kedua kejahatan I.

Korban pertama ia perdaya dan satu handphone berhasil ia dapatkan.

Siang itu, A dan N baru saja mengantarkan rapor ke sekolahnya.

Kemudian, I bertanya kepada dua anak SMP yang sedang berada di sekitar area taman, “Orangtuanya ada enggak? Kan enggak boleh kumpul-kumpul”.

Ia bertingkah seolah menjadi aparat yang ingin menertibkan masyarakat yang berkeliaran di luar.

I lalu meminta bertemu kedua orangtua korban dan pihak RT/RW.

I bermaksud ingin menangkap kedua korban dan dikarantina selama dua minggu.

Kedua anak menolak untuk dikarantina.

I meyakinkan A dan N untuk membuat surat perjanjian karena menolak dikarantina.

I mengajak A dan N untuk ikut ke kantor polisi untuk membuat surat perjanjian.

I terus memacu sepeda motornya membawa kedua korban sambil berboncengan bertiga.

A sempat menelpon ibu kandungnya, Ina.

A menjelaskan ia dan temannya dibawa oleh orang tak dikenal. Ina berpikir A diculik.

Ina sempat berbicara dengan I dan meminta agar anaknya dilepaskan dan siap memenuhi permintaannya.

I tahu kalau A menelepon ibunya. Ia tak berbicara apapun dan lalu mematikan sambungan telepon itu.

Dua ponsel korban lalu disita oleh I.

Ina pun bingung dan kalang kabut karena merasa anak sulungnya diculik.

Ina bahkan sempat pingsan setelah menerima telepon itu. Adik A, AZ sempat melacak posisi A lewat aplikasi.

Posisi korban terlacak hingga sampai Jalan Ciputat Raya.

AZ melalui Facebook Almarhum ayahnya sempat meminta pertolongan untuk melacak penculik kakaknya.

Ia juga mengirimkan lokasi terakhir kakaknya yang didapat dari aplikasi itu.

“Ini A anaknya Pak L. Bang A diculik. No hpnya. 0812xxxx. Ini beneran. Ibu UU sudah pingsan. Bukan bercanda, ribet. Tolongin dong teman-teman Alm. L yang intel dan polisi. Tolong bantuin. Pliss ini urgent hubungi 08122xxx. Plis,” tulis AZ.

Tanggapan di Facebook beragam.

Ada yang tak percaya alharhum mengunggah, ada yang menanyakan kondisi Ina, dan menyarankan untuk menghapus akun Facebook almarhum L.

“Azzam kangen ayah, ya? Tadi tante sampai kaget ngabari semua teman ayah kalau abang diculik."

"Jangan lagi becanda gitu ya, Sayang. Kalau kangen Ayah, kalian berdoa ya,” tertulis di kolom komentar.

A dan AZ adalah anak yatim.

Media sosial Facebook almarhum ayahnya masih bisa mereka akses.

Rekan-rekan almarhum di Facebook sempat tak percaya dengan unggahan permintaan tolong tersebut.

Di sisi lain, I membawa dua korban melewati Jalan Sawangan, Cinere, hingga akhirnya tertangkap di area Komplek Sespima Polri Ciputat.

Kedua korban tampak bingung setelah apa yang menimpa mereka. Mereka seakan tak sadar telah diperdaya oleh penjahat.

Saat beraksi, I menggunakan kemeja bunga-bunga, masker merah, dengan vest berwarna hijau dan membawa sebuah handy talkie, emblem polisi bintang tiga, serta emblem Polisi Metro Jaya.

I mengaku sudah biasa membawa handy talkie dalam beraksi untuk memperdaya korban.

Awalnya, I berniat untuk menurunkan korban di sebuah masjid di area Komplek Sespima Polri.

I membawa dua korban ke komplek polisi untuk menyakinkan korban bahwa ia telah membawa ke kantor polisi.

Kemudian, ia akan meninggalkan korban dan membawa kabur ponsel korban.

I lalu tertangkap saat ingin masuk ke area Kompleks Sespima Polri.

Polisi jaga di depan pintu memberhentikan I yang membonceng dua orang.

Polisi jaga curiga dengan pelaku. Kemudian, polisi jaga di pintu kompleks memisahkan pelaku dan korban untuk diinterogasi.

Polisi bertanya kepada A terkait hubungannya dengan I.

A dan N menjawab bahwa mereka tak mengenal orang yang membawanya.

Polisi yang curiga lalu meringkus pelaku.

Polisi geram setelah mengetahui pelaku mengaku sebagai polisi.

Barang bukti yang ditemukan mengindikasikan I berpura-pura sebagai polisi.

Awalnya, ia hanya mengaku sebagai anggota Tagana (Tanggap Bencana).

Informasi yang Kompas.com dapatkan ia mengaku sebagai polisi berpangkat Brigadir Dua (Bripda) dalam beraksi.

“Lo nih bikin malu polisi. Ngaku-ngaku polisi. Nama polisi jadi jelek,” kata polisi di pos jaga kepada I.

I mengaku tinggal di Jatibaru, Tanah Abang. Dalam pemeriksaan awal, I tak membawa KTP.

Saat mengakui perbuatannya, I tampak berbicara tenang seolah merasa tak bersalah.

Tanpa Disadari Astronom, Ada Asteroid Posisinya Lebih Dekat dengan Bumi

Mike Tyson Dituding Sekadar Cari Uang Bila Kembali Bertinju

Sudah Bisa Dilakukan Sekarang, Token Listrik Gratis Mei 2020, Simak Dua Cara Cepat Mengaksesnya

Dunia Hampir Kehilangan Sihir Lionel Messi, Mau Dibunuh Lawan yang Frustrasi saat Masih Kecil

Kanit Reskrim Polsek Kebayoran Lama Iptu Dimas Arki Jatipratama membenarkan adanya peristiwa ini.

Namun berbeda dengan keterangan korban, Dimas menuturkan polisi gadungan ini tertangkap di check point kawasan Jalan Ciputat Raya, Jakarta Selatan.

I selaku polisi gadungan diberhentikan karena berboncengan tiga dengan dua korban dan tidak memakai masker.

"Jadi ketangkep di check point, nah ditanya 'kamu ngapain bertiga tiga?'. Nah ceritalah si kecil ini (korban) kan, ketahuanlah di situ," kata Dimas saat dikonfirmasi, Kamis (14/5/2020).

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kronologi Polisi Gadungan Diduga Culik 2 Anak di Depok, Pura-pura Tindak Pelanggaran PSBB", 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved