Berita Cilacap
Warga Kejawen di Adipala Cilacap Berpuasa Mulai Sabtu, Ini Kata Tetua Adat Anak Putu Kalikudi
Aliran kejawen Anak Putu Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap baru akan memulai awal puasa pada Sabtu (25/4/2020).
TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Aliran kejawen Anak Putu Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap baru akan memulai awal puasa pada Sabtu (25/4/2020).
Penganut aliran Kejawen di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah itu secara blak-blakan menerangkan akan memulai puasa Ramadan pada Sabtu (25/4/2020).
Ketetapan ini selang sehari dengan pemerintah yang memulai awal Ramadan pada Jumat (24/4/2020).
• Pemudik Masuk Tegal Dipaksa Putar Balik, Polisi Siapkan Posko Penyekatan di Terminal Tegal
• Ini Bentuk dan Skema Penyaluran Bantuan Sosial di Kendal, Selama Tiga Bulan Mulai April
• Seluruh Perjalanan KA Dibatalkan, Berlaku Mulai Sabtu di PT KAI Daop V Purwokerto
• Dibagikan Mulai 4 Mei, Kartu Sembako Senilai Rp 200 Ribu, Khusus 58.075 Warga Cilacap
Tetua Adat Anak Putu Kalikudi, Kunthang Sunardi mengatakan, anak putu menggunakan kalender Alif Rebo Wage atau Aboge dalam menentukan awal Ramadan.
Menurut kalender Aboge, tahun ini adalah taun Wawu sehingga rumusnya adalah Ram Jiji.
“Menghitungnya dengan menggunakan Sanemro. Nem itu hari keenam, Sabtu. Ro itu Loro Manis,” katanya.
Dia menjelaskan, pada tahun Wawu, awal tahun atau 1 Sura jatuh pada Senin Kliwon.
Adapun rumus untuk menentukan awal puasa adalah Sanemro atau puasa nenem loro.
Karenanya, tanggal 1 puasa tiba pada Sabtu pasaran Manis.
Kunthang mengungkapkan, meski berbeda hari dengan ketentuan pemerintah, namun masyarakat di Kalikudi tetap saling menghormati.
Menurut dia, sejak ratusan tahun lalu, masyarakat telah terbiasa hidup berdampingan dan selalu rukun.
Kunthang menuturkan, tahun ini sejumlah tradisi anak putu, seperti Punggahan, Nyadran, Bekten dan Muji menjelang puasa ditiadakan.
Komunitas anak putu mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak menyelenggarakan acara yang menyebabkan kerumunan.
Anak putu melakukan ritual tradisi di rumah masing-masing.
“Kepungan Nyadran ditiadakan. Kalau mau nyadran, kepungan diantarkan ke masing-masing rumah. Jadi tidak ada kumpulan,” ujarnya. (*)