Bisnis dan Keuangan
Susi Pudjiastuti Terancam Bangkrut, 95 Persen Pendapatan Hilang Imbas Wabah Corona
Susi Pudjiastuti Terancam Bangkrut, 95 Persen Pendapatan Hilang Imbas Wabah Corona. penerbangan susi air hanya 5 persen saja, phk sebagian karyawan
"Di Papua tutup, jadi kita sekarang tinggal 5 persen saja penerbangan kita, mungkin minggu depan makin berkurang. Pendapatan kita tinggal lima persen dari 100 persen."
JAKARTA - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, terancam bangkrut bila pandemi virus corona tak segera bisa ditangani.
Pemilik maskapai penerbangan Sus i Air, itu mengaku kini pendapatannya tinggal 5 persen saja.
Sementara, 95 persen pendapatannya sudah hilang, karena sepinya pemasukan.
Menuturnya, bisnis yang digelutinya termasuk yang cukup parah terimbas wabah virus corona (Covid-19).
"Sekarang ya cuma (bisnis) transportasi Susi Air saja. Sejak bulan Maret kita sudah 95 persen, mid of March (pertengahan Maret), airport-airport (bandara-bandara) sudah tutup."
"Di Papua tutup, jadi kita sekarang tinggal 5 persen saja penerbangan kita, mungkin minggu depan makin berkurang."
"Pendapatan kita tinggal lima persen dari 100 persen," ujar Susi saat menghadiri acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (21/4) malam.
• Hasil Swab Perawat Kariadi Meninggal Positif Corona, 60 Tenaga Medis di Jateng Terjangkit Covid-19
• Penerang Jalan Umum di Cilacap Dimatikan, Malah Digunakan Anak Muda Pacaran
• Wali Kota Solo Rudy: Larangan Mudik Itu Telat, Siapapun yang ke Solo Harus Dikarantina Meski VVIP
• Pertamina Jamin Kebutuhan BBM dan Elpiji di Jateng Selama Ramadan dan Idul Fitri Terpenuhi
Kerugian yang ia alami bahkan bisa mencapai angka Rp30 miliar per bulan.
"Kalau kita tidak melakukan efisiensi, restructuring organisasi, pengurangan karyawan, meng-upgrade pilot ya tentunya bisa Rp20 sampai 30 miliar per bulan, bisa lebih," papar Susi.
Kerugian sebesar Rp30 miliar belum termasuk bunga, dan cicilan bank.
"Belum lagi bunga bank, dan cicilan bank, mau tidak mau ya kita harus mengurangi kita apa yang bisa kita bisa efisienkan, untuk sementara menahan napas," lanjutnya.
Susi mengatakan solusi sementara untuk menyelamatkan bisnisnya kini adlah menutup sejumlah cabang, hingga terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada beberapa karyawannya.
"Sebagian ada yang kita rumahkan, sebagian ada yang kita kurangi salary-nya (gaji), tutup beberapa cabang. Ya ada (PHK), ya harus mau tidak mau," imbuh Susi.
"Kalau tanpa insentif penundaan-penundaan, dan tambahan modal ya tidak mungkin ya kita harus pailitkan dalam waktu dekat."
"Itu konsekuensi yang sebetulnya tidak kita inginkan," katanya lagi.
Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto awal bulan lalu mengungkapkan, akibat pandemi virus corona (Covid-19), kondisi maskapai penerbangan nasional kian terpuruk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/mantan-menteri-kelautan-dan-perikanan-susi-pudjiastuti.jpg)