Minggu, 7 Juni 2026

Berita Pendidikan

Seru, Debat Bakal Calon Rektor UIN Walisongo, 16 Kandidat Adu Visi Misi Pengembangan Kampus

Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) Semarang menggelar Debat Bakal Calon Rektor UIN Walisongo Semarang. Debat berlangsung seru!

Tayang:
Tribunnews.com/Franciskus Ariel Setiaputra
PAPARKAN VISI MISI- Jalannya pelaksanaan debat Bakal Calon Rektor UIN Walisongo Semarang yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) Semarang, di Auditorium 2 Kampus III, Selasa (2/12/2025). Sebelum lebih jauh pada agenda utama yakni debat kandidat, masing-masing calon memaparkan visi dan misi mereka. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Debat kandidat bakal calon rektor UIN Walisongo Semarang, berlangsung seru, Selasa (2/12/2025).

Debat yang digelar di Auditorium 2 Kampus III, ini digelar oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW).

Debat terbuka yang digagas KSMW ini menjadi salah satu ruang penting dalam proses partisipatif pemilihan rektor. 

Mahasiswa dapat menilai langsung kualitas gagasan para kandidat sebelum proses seleksi berlanjut ke tahap berikutnya.

Agenda ini diharapkan memperkuat tradisi akademik yang demokratis, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan kampus.

Sedikitnya ada 16 bakal calon rektor yang dihadirkan.

Mereka adalah:

Prof. Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag.
Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag.
Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag.
Prof. Dr. Imam Yahya, M.Ag.
Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag.
Prof. Dr. Muslih, M.A.
Prof. Dr. Rokhmadi, M.Ag.
Prof. Dr. H. Shodiq, M.Ag.
Prof. Dr. H. Syamsul Ma’arif, M.Ag.
Prof. Dr. H. Abdul Ghofur Be, M.Ag.
Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag.
Prof. Dr. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag.
Prof. Dr. H. Baidi Bukhori, S.Nb.Ag., M.Si.
Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag.
Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag.
Prof. Dr. H. Moh. Fauzi, M.Ag.

Dengan debat ini, mahasiswa bisa menilai langsung kualitas visi, integritas, dan kapasitas enam belas bakal calon rektor yang akan memimpin universitas pada periode mendatang.

Prof. Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag., mendapat kesempatan awal menyampaikan paparan visi misi yang diberikan oleh panitia sekira lima menit.

Setelahnya, diikuti secara berturut-turut kandidat bakal calon rektor lainnya.

Para kandidat memaksimalkan waktu lima menit untuk memaparkan gagasan strategis mengenai arah pembangunan kampus.

Prof. Fatah Syukur, misalnya, menyoroti dinamika persaingan PTKIN dengan PTN umum dalam menarik minat mahasiswa dari madrasah dan pesantren.

Ia menilai UIN Walisongo harus melakukan akselerasi transformasi.

“PTKIN ini sangat ketat bersaing, harus adaptif terhadap revolusi digital dan globalisasi pendidikan. Kita perlu peningkatan SDM, sarana prasarana, pengembangan teknologi baru, serta pembukaan prodi-prodi yang relevan dengan kebutuhan masa depan,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya memperluas jejaring kemitraan nasional dan internasional. 

“Kemitraan yang dibangun para pemimpin terdahulu itu banyak, tapi sebagian belum dikembangkan maksimal. Kita harus membuka peluang seluas-luasnya,” katanya. 

Ia menambahkan, budaya inovasi, kolaborasi, dan keterbukaan informasi harus menjadi karakter kampus.

“Tidak ada superman. Yang ada adalah superteam,” tegasnya.

Baca juga: UIN Walisongo Semarang Berduka, 6 Mahasiswa KKN-nya Hanyut di Kendal, 3 Ditemukan Meninggal

Prof. Abdul Ghofur menegaskan komitmennya membangun UIN Walisongo sebagai kampus yang berbasis riset, futuristik, dan kuat pada nilai-nilai Islam.

Ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi modern harus dibangun dengan landasan akademik yang kokoh.

“Reason itu sekarang menjadi basis dari semua kebijakan. Manakala keputusan diambil tanpa riset, maka akar dan fondasinya tidak kuat. Karena itu sejak semester awal, mahasiswa harus dibiasakan berhadapan dengan tradisi ilmiah,” ujarnya.

Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi informasi, budaya akademik berbasis riset, tata kelola profesional, peningkatan kompetensi SDM, penguatan jejaring kerja sama dalam dan luar negeri, serta pelibatan alumni.

Menurutnya, kampus yang maju harus ditopang oleh ekosistem akademik yang kolaboratif dan berorientasi masa depan.

Kandidat lain, Prof. Imam Yahya membawa gagasan “unggul, inovatif, dan mendunia” sebagai fokus pembangunan kampus.

Ia menyoroti pentingnya menjaga akreditasi institusi dan program studi.

“Tahun 2025 ini UIN Walisongo sudah unggul institusinya, dan hampir 60 persen prodinya unggul. Tapi ke depan standar itu naik. Kalau kita mau tetap unggul, minimal 60 persen prodi harus berstatus unggul,” tuturnya.

Ia juga menekankan urgensi transformasi digital dan kesiapan menghadapi era kecerdasan buatan.

“Tanpa mengikuti perkembangan AI, kita akan tertinggal. Sistem akademik dari rektorat sampai mahasiswa harus adaptif,” katanya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa UIN Walisongo harus semakin terhubung dengan dunia global.

“Semangatnya adalah kampus ini tidak hanya untuk Semarang, tapi juga untuk dunia,” terangnya.

Baca juga: Jaga Marwah Kiai, PW GP Ansor Diminta Fokus Program Kerja dan Tidak Terpengaruh Polemik PBNU

Sementara itu, Prof. Mansur mengusung visi pengembangan kampus berbasis kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan kebudayaan.

Ia menawarkan empat fokus utama: penguatan pembelajaran, penelitian dan pengabdian, perluasan kerja sama, serta perbaikan tata kelola.

“Saya ingin pembelajaran di UIN Walisongo itu berbasis ilmu dan kebugaran. Semua karyawan, dosen, dan mahasiswa harus punya budaya belajar yang sehat, adaptif, dan berlandaskan Pancasila serta UUD 1945,” ujarnya.

Ia menambahkan pentingnya penelitian yang relevan dengan konteks lokal.

“Kita ini bangsa Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang hidup di Indonesia. Maka penelitian harus dekat dengan konteks sosial masyarakat,” katanya. 

Ia juga menekankan peningkatan sarana prasarana, percepatan kenaikan pangkat dosen, dukungan studi lanjut, penguatan koordinasi internal, serta integritas dalam tata kelola.

“Yang kita utamakan adalah kepentingan lembaga, bukan kepentingan pribadi,” tegasnya.(arl)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved