Berita Pendidikan
Profil 5 Guru Besar UIN Walisongo yang Baru Dikukuhkan, Nor Ichwan Pernah Jualan Es Lilin
Rektor juga menyinggung sejarah istilah profesor yang berasal dari kata Latin professus, bermakna ‘mengakui’.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, UIN Walisongo resmi mengukuhkan lima akademisi sebagai profesor, yaitu Prof. Dr. Shodiq, M.Ag. (Guru Besar Bidang Evaluasi Pendidikan Islam), Prof. Dr. Muhammad Sulthon, M.Ag. (Guru Besar Bidang Manajemen Dakwah), Prof. Dr. Ahmad Ismail, M.Ag., M.Hum. (Guru Besar Bidang Linguistik Arab Modern), Prof. Dr. Moh Nor Ichwan, M.Ag. (Guru Besar Bidang Metodologi Tafsir Al-Qur’an), dan Prof. Dr. Tholkhatul Khoir, M.Ag. (Guru Besar Bidang Ushul Fiqh).
Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium II UIN Walisongo, Rabu (17/9/2025).
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag., menegaskan bahwa pencapaian sebagai guru besar bukanlah perkara mudah. Menurutnya, gelar akademik tertinggi di perguruan tinggi ini menuntut perjuangan luar biasa serta dukungan keluarga, pasangan, kolega, dan institusi.
“Mustahil seseorang mencapai gelar ini sendirian tanpa bantuan orang lain. Karena itu, saya menyampaikan ucapan selamat yang setinggi-tingginya kepada keluarga dan kolega kelima guru besar yang hari ini dikukuhkan,” ujar Nizar.
Ia menegaskan, pengukuhan guru besar bukan sekadar seremoni formal, melainkan momen reflektif yang sarat makna.
Ada tiga hal yang dapat direnungkan dari momen ini, yaitu pengakuan atas kepemimpinan intelektual, simbol inspirasi dan keteladanan, serta panggilan untuk mendorong inovasi berkelanjutan.
“Guru besar adalah mercusuar nilai, panutan bagi mahasiswa dan sejawat, sekaligus katalisator perubahan. Harapan saya, para profesor yang dikukuhkan hari ini benar-benar menjelma sebagai sosok profesor sejati, bukan sekadar pemilik gelar, tetapi penjaga martabat keilmuan yang hidup dalam karya dan keteladanan,” tegasnya.
Rektor juga menyinggung sejarah istilah profesor yang berasal dari kata Latin professus, bermakna ‘mengakui’.
Seiring perkembangan zaman, makna itu bergeser dari spiritual ke ilmiah. Nizar mengingatkan, setinggi apa pun ilmu seorang profesor, ia tetap harus rendah hati di hadapan kebenaran yang terus berkembang.
“Pengukuhan guru besar pada hari ini tidak hanya menjadi momentum bersejarah bagi para profesor, tetapi juga bagi UIN Walisongo dalam meneguhkan jati diri sebagai kampus kemanusiaan dan peradaban. Tema ‘Inklusivitas Ilmu Keislaman: Perspektif Pendidikan, Dakwah, Hukum, dan al-Qur’an’ menegaskan komitmen kita mengembangkan tradisi keilmuan Islam yang terbuka, dialogis, dan relevan dengan kebutuhan zaman,” imbuhnya.
Baca juga: Gedung KPT Brebes Dibangun dengan Biaya Ratusan Miliar, Kini Atapnya Ambruk Timpa Pekerja
Profil
Setiap sosok membawa kisah inspiratif. Prof. Sulthon misalnya, sejak 1994 menapaki perjalanan akademik dari Penata Muda (III/a) hingga mencapai jenjang Pembina Utama Muda (IV/c) pada 2011. Lebih dari dua dekade ia konsisten mengabdi di dunia pendidikan, khususnya manajemen dakwah.
Prof. Moh Nor Ichwan menempuh jalan penuh perjuangan. Lahir dari keluarga sederhana di Ngawi, ia kecil hampir putus sekolah karena keterbatasan biaya. Namun, tekadnya membuat ia bertahan dengan berjualan es lilin, gorengan, hingga menjadi pengambil bola tenis.
Perjuangan itu berbuah beasiswa MAPK Jember, lalu kuliah di IAIN Walisongo, dan doktoral yang diselesaikannya hanya dalam tiga tahun. Kini ia memperkenalkan “Metode Tafsir Ichwani” yang diakui di kancah akademik internasional.
Kisah berbeda datang dari Prof. Shodiq Abdullah yang menapaki jalan akademik dengan berpegang pada doa, kesederhanaan, dan pengabdian. Lahir di Pati, ia tumbuh dari madrasah dan pesantren hingga menyelesaikan doktor di Universitas Negeri Yogyakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/pengukuhan-profesor-UIN-WS.jpg)