Berita Nasional
Manuskrip Tahlil Diduga Peninggalan Sunan Ampel Ditemukan di Cilacap
Kitab tahlil itu bagian dari koleksi ratusan manuskrip kuno yang diduga peninggalan era Walisongo.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP- Manuskrip kuno berisikan bacaan tahlil ditemukan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kitab tahlil itu bagian dari koleksi ratusan manuskrip kuno yang diduga peninggalan era Walisongo.
Naskah-naskah kuno tersebut dimiliki Kiai Raden Mas Muhammad Salim bin Kiai Raden Mas Muhammad Mughni (Kiai Salim), pengasuh Pondok pesantren Bumi Sholawat Kanjeng Sunan Ampel, Rawajaya, Bantarsari Cilacap.
Ia bersedia membongkar dan memperlihatkannya kepada KH Imaduddin Utsman Al-bantani, ulama muda Nahdlatul Ulama (NU), pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Cempaka, Kresek, Tangerang Banten bersama Raden Tubagus Mogy Nurfadil.
KH Imaduddin mengatakan, materi tahlil dalam naskah kuno itu sama persis dengan bacaan tahlil yang biasa diamalkan umat Islam Indonesia saat ini.
"Materinya sama persis dengan tahlil kita hari ini,"katanya
Dari pengakuan Kiai Salim sang pemilik, manuskrip tahlil itu dari Sunan Drajat yang didapat dari Sunan Ampel.
Meski demikian, menurut Imad, masih butuh penelitian lanjutan untuk memvalidasi riwayat tersebut. Perlu uji aksara dan tinta atau uji dating, yakni metode ilmiah untuk menentukan usia benda yang diyakini peninggalan Wali Songo tersebut.
"Kalau dari kertasnya menunjukan memang sangat tua
Untuk tepatnya perlu uji aksara dan tinta, atau iji karbon dating,"katanya
Baca juga: Sosok KH Imaduddin Batalkan Nasab Baalwi, Bahar bin Smith Cs Bukan Cucu Nabi
Ratusan Manuskrip
Sampel manuskrip yang diperlihatkan Kiai Salim terdiri dari tiga buntalan besar dari kain putih. Satu buntalan itu terdiri sekitar 17 manuskrip.
Selain tiga buntalan besar itu, Kiai Salim memperlihatkan dalam video peti-peti berisi manuskrip serupa.
Manuskrip-manuskrip itu berupa manuskrip kitab-kitab berbahasa Arab dan Jawa, ditulis dengan dua jenis huruf, Arab dan Jawa.
Menariknya, jenis kertas yang digunakan adalah kertas daluwang asli Nusantara.
KH Imaduddin mengungkapkan, di antara manuskrip-manuskrip itu berupa mushaf Al-Qur’an yang berangka tahun 994 H (1586 M)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/manuskrip-tahlil-sunan-ampel.jpg)