Jawa Tengah
Dari BRT, Fortuner, hingga Tukang Cilok Kompak Klakson Muak ke Pemerintah
Spanduk "Klakson Jika Muak dengan Pemerintah" dari Aksi Kamisan Semarang pada Kamis (11/6/2026) disambut ramai klakson.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Aksi Kamisan Semarang di depan Kantor Gubernur Jateng pada Kamis (11/6/2026) petang membentangkan spanduk "Klakson Jika Muak dengan Pemerintah".
- Ajakan ini direspons ramai oleh ojek online, BRT, pengemudi mobil mewah, hingga tukang cilok keliling.
- Hadmono (55), penjual cilok, ikut membunyikan terompetnya karena resah omzetnya turun 30 persen imbas ekonomi lesu dan mahalnya bahan baku.
- Pemprov Jateng mengakui adanya tren pelemahan ekonomi ini dan menyiapkan skema bantuan UMKM.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Ramai suara deru klakson kendaraan bermotor, baik dari motor milik tukang ojek online maupun dari mobil-mobil mewah, terdengar saling bersahutan di depan area Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (11/6/2026) petang.
Para pengguna jalan yang melintas tersebut secara spontan membunyikan klakson karena melihat sebuah tulisan bernada protes berbunyi "Klakson Jika Muak dengan Pemerintah" yang dibentangkan oleh para peserta Aksi Kamisan Semarang.
Tidak hanya pengemudi kendaraan bermotor bermesin, seorang penjual cilok keliling bernama Hadmono (55) turut membunyikan bel terompetnya. Terompet berbentuk corong dengan ujung bola karet yang apabila dipencet akan mengeluarkan suara khas ini jamak digunakan oleh para pedagang keliling sebagai cara jitu memancing perhatian pembeli.
Baca juga: Aksi Kamisan Semarang Kritisi Kinerja Polda Jawa Tengah, No Viral No Justice
"Tulit, tulit, tulit," begitu suara bunyi terompet dari gerobak cilok milik Hadmono saat melintas.
Ia mengaku ikut membunyikan terompet usang itu karena melihat bentangan tulisan dari para demonstran.
"Iya ikut nyalakan terompet karena takut kondisi sekarang semua barang bakal naik, lalu bisa ambil untung dari mana," ujarnya blak-blakan kepada Tribunjateng.com.
Lesunya roda ekonomi ini sudah sangat dirasakan oleh Hadmono dalam beberapa bulan terakhir. Ia bahkan dengan getir mengaku bahwa kondisi perekonomian pedagang kecil di jalanan sekarang jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan semasa puncak pandemi Covid-19 lalu.
Penghasilannya kini merosot tajam hingga menyentuh angka 20-30 persen. "Sehari biasanya bawa 1.000 biji cilok, mulai bulan lalu mentok bawa 800 biji. Mau bawa banyak tidak berani, pembeli sekarang sepi," terangnya.
Ia mengatakan, kondisi ekonomi yang makin merosot ini ditandai dengan harga bahan baku yang mulai merangkak mahal, terutama komponen plastik. Padahal, produk ini sangatlah vital bagi kelangsungan usahanya sebagai media pembungkus cilok kepada pelanggan.
"Sekarang naik jadi Rp4 ribu (ukuran 1 kg, isi 50 lembar), sebelumnya Rp3 ribu," ucapnya.
Perantau yang berasal dari Purbalingga ini juga mengaku ada sebuah ketakutan besar di mana barang-barang kebutuhan pokok lainnya akan ikut latah naik di tengah situasi yang tak menentu seperti saat ini. Apalagi, hal itu diperparah setelah pemerintah mengumumkan adanya kenaikan harga BBM jenis Pertamax baru-baru ini.
"Kalau BBM naik, bahan kebutuhan lain jadi naik, termasuk bahan cilok. Dampaknya cilok saya kurang laku, pendapatan kemudian makin berkurang," terangnya.
Di sisi lain, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Semarang (Polines), Kevin Kurnia Priambodo, menyebut bahwa hampir setengah jam pihaknya ikut membentangkan spanduk ajakan mengklakson. Ia mencatat sudah sangat banyak pengguna jalan yang secara antusias ikut menyalakan klakson mereka secara berbarengan.
Berdasarkan pengamatannya di lapangan, hampir seluruh elemen pengguna jalan mulai dari sopir ojek online, taksi, Bus Rapid Transit (BRT), pemilik mobil mewah kelas menengah seperti Fortuner dan HRV, hingga pedagang cilok keliling pun turut membunyikan bunyi-bunyian protes tersebut dengan caranya masing-masing.
"Artinya, semua lapisan ekonomi mulai dari masyarakat bawah dan menengah rentan ikut merasakan dampak ekonomi, sehingga mereka muak dengan pemerintah," katanya menyimpulkan.
| Siswa Lereng Merapi Tak Perlu Kos, Ahmad Luthfi Cicil 23 Blank Spot |
|
|---|
| Razia Dini Hari di Desa Sikuang, 89 Motor Balap Liar Kena Tilang |
|
|---|
| Target Rebut Kursi 2029, DPW PPP Jateng Minta Kader Nongkrong Bareng Anak Muda |
|
|---|
| Bawa Uang Rp646 Ribu, Pria Ini Akhiri Hidup di Kebun Alpukat |
|
|---|
| Viral di Grup WA Atap Seng Terbang, Camat Pastikan Itu Kejadian Wanayasa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260611-klakson-pengguna-jalan-aksi-kamisan-semarang.jpg)