Rabu, 10 Juni 2026

Inovasi Pengendalian Penyakit Kronis

Puskesmas Sukoharjo Rilis Gulali Manis untuk Pasien Kencing Manis

Puskesmas Sukoharjo I Wonosobo rilis inovasi Mas Jo Si Manis, Sopandi, dan Gulali Manis pada Rabu (10/6/2026) untuk layani pasien kronis

Tayang:
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Banyumas/Imah Masitoh
Kegiatan peluncuran tiga inovasi layanan Prolanis (Mas Jo Si Manis, Sopandi, dan Gulali Manis) oleh Puskesmas Sukoharjo I guna memperkuat pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus bagi warga di Kabupaten Wonosobo, Rabu (10/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Puskesmas Sukoharjo I meluncurkan tiga inovasi kesehatan: Mas Jo Si Manis, Sopandi, dan Gulali Manis.
  • Inovasi ini bertujuan memperkuat pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus di Wonosobo.
  • Program ini menggunakan pendekatan jemput bola dan sistem digital untuk memantau kesehatan masyarakat secara real-time.
  • Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo mendukung penuh inisiatif ini sebagai langkah strategis pelayanan akar rumput.

TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Upaya pengendalian penyakit kronis di Kabupaten Wonosobo kini terus diperkuat.

Puskesmas Sukoharjo I secara resmi meluncurkan tiga inovasi pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang diharapkan mampu memperluas jangkauan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) sekaligus meningkatkan taraf kualitas hidup masyarakat setempat.

Tiga inovasi unik yang diperkenalkan tersebut yakni Puskesmas Sukoharjo I Sigap Sama Prolanis (Mas Jo Si Manis), Sistem Observasi dan Pencatatan Prolanis di Desa (Sopandi), serta Gerakan Unggulan Laboratorium Keliling Melayani Prolanis (Gulali Manis).

Baca juga: Dipicu Ambulans, Kades Marongsari Wonosobo Didemo Warga. Kini Diberi Waktu 30 Hari Perbaiki Kinerja

Peluncuran inovasi kesehatan ini dirangkai dengan kegiatan pemeriksaan Prolanis secara massal di halaman Puskesmas Sukoharjo I, Rabu (10/6/2026).

"Harapannya kegiatan ini bisa mendapatkan dukungan dari semua stakeholder. Ini menjadi energi positif bagi teman-teman kami di Puskesmas untuk konsisten memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat," ujarnya menegaskan.

Peluncuran tiga program inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya serius memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas masyarakat, khususnya dalam langkah pengendalian penyakit hipertensi dan diabetes melitus. Kedua penyakit itu selama ini menjadi dua jenis penyakit kronis dengan jumlah kasus yang cukup tinggi di tengah masyarakat.

Pendekatan proaktif tersebut dinilai mampu memperluas akses layanan kesehatan, terutama bagi kalangan masyarakat yang selama ini belum rutin atau enggan memeriksakan kondisi kesehatannya ke puskesmas.

Sementara itu, inovasi Sopandi sengaja dikembangkan untuk memperkuat sistem pendataan pencatatan dan pelaporan para peserta Prolanis. Melalui penggunaan sistem digital tersebut, seluruh hasil pemeriksaan warga dapat terdokumentasi secara otomatis, dipantau secara langsung (real time), dan menjadi pedoman dasar tindak lanjut pelayanan kesehatan selanjutnya.

Para peserta program juga dapat memperoleh rekam hasil pemeriksaan serta panduan edukasi kesehatan secara lebih mudah melalui akses layanan digital yang terhubung serta terintegrasi dengan sistem puskesmas.

Merespons hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, secara khusus menilai inovasi yang dikembangkan oleh Puskesmas Sukoharjo I ini menjadi langkah strategis dan penting untuk memperluas jangkauan pengendalian ragam penyakit kronis di tingkat masyarakat akar rumput.

"Selama ini kita menunggu para warga yang hipertensi dengan kencing manis untuk datang ke Puskesmas," kata Jaelan memberikan evaluasinya.

Oleh karena itu, pendekatan model jemput bola ini dinilai jauh lebih efektif untuk segera menemukan kelompok warga berisiko, sekaligus memastikan para penderita penyakit kronis tetap mendapatkan program pendampingan medis secara berkelanjutan.

"Sudah ada anggarannya, sudah ada dananya dari BPJS Kesehatan. Ini yang luar biasa kegiatan sederhana, kecil ini, Insya Allah daya ungkitnya luar biasa," tandasnya optimistis.

Menurutnya, langkah pengendalian penyakit seperti hipertensi dan diabetes memang harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan agar masyarakat dapat terhindar dari berbagai ancaman komplikasi yang berisiko menurunkan kualitas hidup mereka.

Berdasarkan data yang ada hingga Februari 2026, di wilayah Kabupaten Wonosobo sendiri telah berhasil terbentuk sebanyak 133 klub Prolanis penderita hipertensi dengan jumlah total peserta mencapai angka 6.796 orang. Selain itu, terdapat pula sebanyak 51 klub Prolanis untuk penyakit diabetes melitus dengan total partisipasi sebanyak 1.788 peserta.

Meski demikian, jumlah keanggotaan klub kesehatan tersebut dipastikan masih dapat terus ditingkatkan ke depannya. Mengingat, secara wilayah geografis Kabupaten Wonosobo memiliki cakupan 265 desa dan kelurahan yang secara mutlak membutuhkan adanya pendampingan kesehatan proaktif secara berkelanjutan dari para petugas. (ima)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved