Senin, 8 Juni 2026

Berita Jateng

Pengembangan Jasela Bisa Terhambat Ego Kewilayahan, Akademisi Unsoed: Kunci Ada di Kolaborasi

Pembangunan Jasela dapat terhambat akibat ego kewilayahan. Akademisi menilai, pembangunan Jasela berhasil jika terjadi kolaborasi.

Tayang:
Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad
PENGEMBANGAN JASELA - Anggota DPD RI Dr Abdul Kholik (tengah) berfoto bersama akademisi, Bank Indonesia (BI), dan pejabat Bappeda wilayah Barlingmascakeb serta Purwomanggung seusai diskusi di Hotel Java Heritage Purwokerto, Selasa (12/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pembangunan dan pengembangan wilayah Jasela terus didorong.
  • Wilayah ini dinilai memiliki potensi besar di bidang pertanian dan maritim.
  • Hanya saja, akademisi menilai, pengembangan Jasela akan terhambat jika kepala daerah mempertahankan ego kewilayahan padahal kolaborasi menjadi kunci.

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Pembangunan dan pengembangan potensi wilayah Jawa Tengah bagian Selatan (Jasela) saat ini terus didorong anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr Abdul Kholik.

Konsep yang digagas adalah Jasela sebagai Daerah Penyangga Pangan dengan potensi unggulan di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

Hal itu terungkap dalam diskusi yang melibatkan akademisi, Bank Indonesia (BI), dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen (Barlingmascakeb) serta wilayah Purworejo, Wonosobo, Magelang, dan Temanggung (Purwomanggung).

Diskusi untuk membuat bahan kajian Jasela itu diselenggarakan di Hotel Java Heritage Purwokerto, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Anggota DPD Abdul Kholik Susun Bahan Kajian Jasela sebagai Daerah Penyangga Pangan 

Pada kesempatan itu, akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memberikan sejumlah catatan dan masukan terkait rencana pembangunan Jasela.

Koordinator Pusat Riset Transportasi dan Pengembangan Wilayah LPPM Unsoed, Ir Probo Hardini ST MT PhD mengatakan, pengembangan Jasela ini harus dilakukan dengan pendekatan pembangunan secara kewilayahan.

Maksudnya, pembangunan harus memperhatikan potensi dan permasalahan di daerah yang akan dibangun, semisal soal karakteristik daerah.

Sehingga, butuh proses yang sistematik untuk meningkatkan kualitas ruang dan kehidupan yang dimiliki melalui intevensi pemerintah. 

"Kalau kita perhatikan, saat ini, ada banyak dinamika. Mulai dari infrastruktur, produksi yang rendah, dan memenuhi atau tidaknya," katanya dalam forum.

Probo Hardini menilai, ada tiga poin dalam konsepsi pengembangan wilayah yang perlu dilakukan di Jasela, yaitu pendataan karakter dasar, peningkatan produktivitas, dan interaksi.

Wilayah-wilayah ini perlu melakukan pendataan, mulai dari pertaniannya hingga infrastruktur yang mengarah guna peningkatan produksi. 

Kemudian, soal interaksi dan interkoneksi yang saat ini dinilai masih sangat lemah.

"Kami, dari LPPM Unsoed, pernah FGD dengan konsen wilayah Cibalingmas (Cilacap, Purbalingga, dan Banyumas, red). Ketika duduk bersama, masalahnya hanya satu, ego kewilayahan. Sehingga di sini butuh kolaborasi," jelasnya. 

Sementara, Pakar Kebijakan Publik dan Administrasi Pembangunan, Prof Slamet Rosyadi menilai, perlu adanya kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan di kawasan Jasela

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved