Berita Jateng
23.495 Orang Jepara Nganggur, Susah Payah Cari Kerja hingga Rintis Usaha
angka pengangguran terbuka di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi mencapai 23.495
Penulis: Saiful Masum | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (DiskopUKM-nakertrans) mencatat angka pengangguran terbuka di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi mencapai 23.495 atau 3,30 persen dari jumlah angkatan kerja 711.519.
Dari jumlah tersebut, 19.596 orang di antaranya tercatat sudah mengajukan kartu AK I atau kartu pencari kerja.
Ada yang mendaftar lowongan kerja lewat online, ada juga yang menyambangi bursa kerja atau job fair, ada pula yang memutuskan untuk menciptakan dunia kerja dengan merintis sebuah usaha.
DiskopUKM-nakertrans Jepara mencatat ada 1.605 lowongan pekerjaan dari berbagai perusahaan yang dilaporkan pada akhir April 2026.
Loker tersebut bisa diakses bagi siapa saja yang sedang mencari kerja, baik diakses secara langsung maupun secara online melalui yokerjo.jepara.go.id.
Selain itu, 2.000 lebih lowongan pekerjaan juga tersedia melalui Job Fair Jepara 2026 yang digelar dua hari di Gedung Shima Kompleks Kantor Setda Jepara, 8-9 Mei 2026 melibatkan 21 perusahaan.
Job fair tersebut bahkan diserbu oleh 5.599 tenaga kerja yang mendaftar selama dua hari pelaksanaan.
Kepala DiskopUKM-nakertrans Jepara, Zamroni Lestiaza mengatakan, ketersediaan lowongan kerja yang ada saat ini belum bisa menampung pencari kerja secara keseluruhan.
Baca juga: Belasan Perlintasan Kereta di Blora Tanpa Palang Pintu, Butuh Rp 200 Juta Satu Titik
Namun, kesempatan yang ada diharapkan bisa dimanfaatkan dengan mengisi job desk yang tersedia sesuai dengan jenjang pendidikan.
"Salah satu upaya kami untuk mengurangi tingkat pengangguran terbuka adalah dengan job fair. Tersedia lowongan pekerjaan yang bisa diakses para pencari kerja. Dengan begitu peluang terserap ke dunia kerja lebih besar, sehingga angka TPT berkurang," terangnya, Sabtu (9/5/2026).
Bupati Jepara, Witiarso Utomo menuturkan, setiap tahunnya pemerintah daerah terus berupaya menekan angka pengangguran terbuka.
Selain menggelar job fair, upaya lain yang dilakukan adalah menggelar pelatihan guna meningkatkan keterampilan masyarakat.
Dengan harapan masyarakat yang belum memiliki pekerjaan bisa membuka peluang usaha mandiri berbekal keterampilan yang sudah didapatkan.
"Semakin banyak peluang kerja yang tercipta, semakin besar manfaatnya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penting bagi pemerintah daerah bersinergi dengan dunia usaha atau penyedia kerja dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif," tutur dia.
Nurul Hidayah (24) merupakan lulusan jenjang pendidikan SMK asal Jepara yang saat ini aktif mencari kerja.
Dia tercatat sudah pernah bekerja di dua perusahaan berbeda. Satu perusahaan di bidang manufacture sebagai karyawan produksi dan satu perusahaan di bidang ritail sebagai operator.
Kedua job desk yang pernah dijalani dinilai tidak sesuai pashion Nurul, sehingga dia membutuhkan penyesuaian lebih lama dalam pekerjaan yang dijalani. Hingga akhirnya memilih resign dan mencari peluang kerja lainnya.
Saat ini, Nurul Hidayah sedang mengupgrade skill di bidang penguasaan Bahasa Jepang dan beberapa bahasa asing lainnya, agar lebih siap menyambut peluang kerja yang tersedia.
"Saya hanya lulusan SMK, peluang kerjanya kebanyakan jadi karyawan biasa. Akhirnya saya ambil kursus bahasa asing untuk memantapkan diri bisa sejajar dengan lulusan S1. Pinginnya bekerja sebagai translator, saat ini masih cari-cari loker," ucap dia. (Sam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Loker-jobfair-jepara.jpg)