Berita Jateng
Penumpang BRT Terlantar Imbas Penutupan Gombel Lama Semarang
akses turunan Gombel resmi ditutup total untuk perbaikan, ditandai dengan pemasangan water barrier
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: khoirul muzaki
Menurutnya, sopir enggan menaikkan penumpang di luar halte resmi.
“Padahal busnya kosong. Tapi kalau tidak di shelter, ya tidak mau berhenti,” katanya.
Kondisi itu membuat Yen kesulitan.
Untuk berjalan ke shelter terdekat pun dinilai sulit.
Dia menyebut jarak ke arah shelter Ngesrep maupun Jatingaleh terlalu jauh untuk ditempuh.
“Kalau jalan ke shelter sekitar Ngesrep terlalu jauh, ke Jatingaleh juga terlalu jauh,” tambahnya.
Dia berharap ada solusi cepat dari pemerintah, setidaknya dengan menyediakan halte sementara di Jalan Gombel Baru.
“Harus ada shelter di sini.
Kalau Gombel Lama ditutup, ya haltenya dipindah,” tegasnya.
Di tengah kondisi itu, Yen akhirnya bisa melanjutkan perjalanan setelah sebuah bus feeder Trans Semarang bersedia berhenti dan mengangkutnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Semarang menyebut rekayasa lalu lintas ini diperkirakan berlangsung hingga tujuh bulan, seiring proyek perbaikan Jalan Gombel Lama sepanjang 1,27 kilometer.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, menjelaskan bahwa Jalan Gombel Baru kini menjadi jalur utama dua arah dengan prioritas kendaraan yang melaju ke tanjakan.
Sejumlah skema pengalihan arus juga telah diterapkan, termasuk mengarahkan kendaraan berat melalui Tol Srondol–Jatingaleh dan menyediakan jalur alternatif bagi pengendara roda dua maupun mobil pribadi.
Sehari sebelumnya, saat tahap persiapan, kepadatan sudah terlihat mengular dari Flyover Jatingaleh menuju tanjakan Gombel.
Kepadatan juga terjadi di Flyover Jatingaleh pada Senin siang hingga sore. (rez)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Penutupan-gombel-lama.jpg)