Jumat, 10 April 2026

Berita Jateng

Bukan Mitos, Penyebab Jalur Tengkorak Parakan - Kertek Wonosobo Rawan Kecelakaan

Faktor geografis menjadi penyebab utama tingginya risiko kecelakaan di jalur Kertek-Parakan

Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
Tribun Banyumas/Imah Masitoh
KECELAKAAN BERUNTUN - Petugas mengevakuasi kendaraan yang terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Parakan-Kertek, Wonosobo, Rabu (8/4/2026). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Jalur Parakan-Kertek sejak lama dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan di wilayah Wonosobo.

Baru-baru ini kecelakaan beruntun 5 kendaraan di jalur ini tepatnya di Dusun Madukoro, Desa Candimulyo, Kecamatan Kertek merenggut tiga nyawa.

Bukan tanpa alasan, karakter jalan yang panjang dan menurun menjadi tantangan serius, terutama bagi kendaraan berat.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Wonosobo, Iptu Agista Erikha, menjelaskan bahwa faktor geografis menjadi penyebab utama tingginya risiko di jalur tersebut.

“Dikatakan jalur tengkorak karena banyak kecelakaan yang mengakibatkan fatalitas tinggi. Itu karena faktor geografisnya sendiri,” ujarnya kepada tribunjateng.com, Kamis (9/4/2026).

Ia menyebut panjang turunan di jalur tersebut mencapai belasan kilometer.

“Jalan menurun dari perbatasan Temanggung sampai simpang empat Kertek itu hampir 16 kilometer, dan itu full turunan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat sistem pengereman kendaraan bekerja ekstra.

Jika tidak diantisipasi dengan teknik berkendara yang tepat, risiko kecelakaan meningkat drastis.

Di balik kondisi geografis tersebut, faktor pengemudi justru menjadi penyebab yang paling sering ditemukan di lapangan.

Banyak pengemudi kendaraan berat, khususnya truk bermuatan, belum sepenuhnya memahami cara melintasi jalur ekstrem seperti Parakan-Kertek ini.

“Sebenarnya itu karena drivernya kurang menguasai medan, banyak yang baru pertama kali lewat,” kata Erik.

Ia menjelaskan, kesalahan yang kerap terjadi adalah tidak menggunakan gigi rendah saat melintasi turunan panjang.

“Nah di situ mungkin karena jalur sepi, jadi tidak menggunakan gigi rendah,” ujarnya.

Padahal, penggunaan gigi rendah memungkinkan kendaraan memanfaatkan pengereman mesin (engine brake), sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada rem.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved