Berita Jateng
Perajin Tahu Tempe Wonosobo Menjerit Imbas Harga Kedelai, Minyak dan Plastik Naik
Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, hingga plastik berdampak langsung kepada UMKM
Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
“Untuk awal-awal sebetulnya mengurangi, tapi sekarang lambat laun berjalan seperti biasa,” ujar Elis.
Produksi harian yang biasanya mencapai 2 kuintal sempat turun hingga 1 kuintal, sebelum akhirnya kembali normal.
“Kemarin dua kuintal, sempat satu kuintal, sempat ke satu setengah kuintal, sekarang kembali ke dua kuintal lagi,” jelasnya.
Elis juga menyoroti ketergantungan perajin tahu pada kedelai impor. Menurutnya, kualitas kedelai impor lebih baik dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan kedelai lokal.
“Kalau ada kenaikan kedelai impor sangat terasa soalnya kita mengandalkan kedelai impor si,” katanya.
Ia memperkirakan tren kenaikan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
“Saya berpikirnya kok masih akan lanjut ya,” kata Elis.
Hal serupa diungkapkan Muhaemin, perajin tahu sekaligus tempe di Bumiroso. Ia menyebut harga kedelai sempat naik dari Rp9.800 menjadi Rp11.400 per kilogram.
Dalam menghadapi kondisi ini, pelaku usaha memiliki dua pilihan menaikkan harga atau mengurangi ukuran produk.
“Kalau harga naik ya dinaikkan. Kalau dikecilkan pasti banyak komplain,” ujarnya.
Muhaemin memilih menaikkan harga jual sembari menjaga kualitas produk. Ia juga melakukan pendekatan kepada konsumen dan distributor untuk mempertahankan pasar.
“Kita menyesuaikan harga pasar. Kita melobi-lobi konsumen, distributor,” katanya.
Dalam produksi tempe, di tengah naiknya harga plastik, sebagian tempe yang diproduksi Muhaemin lebih banyak menggunakan daun.
“Tempe ada yang pakai plastik dan daun. Tapi saya dari dulu memang sering pakai daun,” ujarnya.
Produksi hariannya kini turun dari 2,5 kuintal menjadi sekitar 2 kuintal. Ia juga mengakui beban modal semakin berat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Tempe-perajin.jpg)