Berita Jateng
Perajin Tahu Tempe Wonosobo Menjerit Imbas Harga Kedelai, Minyak dan Plastik Naik
Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, hingga plastik berdampak langsung kepada UMKM
Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, hingga plastik berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, termasuk perajin tahu dan tempe di Desa Bumiroso, Kabupaten Wonosobo.
Desa Bumiroso menjadi salah satu sentra produksi tahu dan tempe di Wonosobo, setidaknya ada kurang lebih 80 perajin tahu dan tempe.
Kaitannya dengan kenaikan bahan produksi, para produsen mengaku terpaksa menyesuaikan harga jual demi menjaga kelangsungan usaha.
Elis Triana, perajin tahu yang telah beroperasi 10 tahun, mengatakan kenaikan harga bahan baku terjadi secara bertahap namun signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Ia membenarkan bahwa lonjakan harga bahan baku sangat terasa, terutama pada kedelai yang menjadi komponen utama produksi tahu.
“Benar sekali, kenaikan dari harga kedelai, dari harga minyak, juga harga plastik-plastik naiknya sangat drastis sekali,” katanya saat ditemui, Selasa (7/4/2026).
Harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.300 hingga Rp9.500 per kilogram kini terus merangkak naik hingga menyentuh Rp11.000 per kilogram.
“Ini cuma untuk harga tadi malam itu sekitar Rp11.000-an,” ungkapnya.
Baca juga: Dampak Kesehatan yang Perlu Diantisipasi saat Cuaca Kering karena El Nino
Kenaikan tersebut mulai terasa sejak akhir Ramadan. Tidak hanya kedelai, harga minyak curah juga mengalami lonjakan. Tidak hanya tahu biasa, Elis juga menjual tahu yang sudah digoreng sehingga kenaikan minyak begitu dirasakannya.
“Dari Rp18.500 per kilogram ke Rp20.500 per kilogram itu sudah naik Rp2.000. Sekarang menuju Rp20.800 per kilogram,” jelas Elis.
Sementara itu, harga plastik sebagai bahan kemasan bahkan melonjak hingga hampir 50 persen.
“Dari yang biasa kita beli bal-balan (grosir) itu cuma Rp600 ribu, sekarang sampai 1 juta per bal,” ujarnya.
Untuk menyiasati kenaikan biaya produksi, Elis memilih menaikkan harga jual tahu yang dibuatnya.
Harga per masak tahu (satu papan ukuran besar) kini naik dari Rp100 ribu menjadi Rp110 ribu. Sementara tahu putih (ukuran papan yang lebih kecil) naik dari Rp40.000 menjadi Rp45.000.
“Saya yang pertama iya, jelas harga jualnya harus dinaikkan,” katanya.
Meski sempat terjadi penurunan jumlah pembeli di awal kenaikan harga, kondisi pasar perlahan mulai stabil seiring penyesuaian konsumen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Tempe-perajin.jpg)