Jumat, 8 Mei 2026

Berita Jateng

Ukuran Tempe Mengecil Imbas Harga Kedelai dari Amerika Naik

Harga kedelai impor tercatat mengalami kenaikan signifikan dalam sebulan terakhir sejak awal Maret 2026

Tayang:
Penulis: Saiful Masum | Editor: khoirul muzaki
Tribun Banyumas/Saiful Masum
CEK TEMPE - Perajin tempe di Desa Pecangaan Timur, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Nur Santo (40) sedang mengecek tempe yang diproduksinya, Jumat (3/4/2026). Dia mengurangi ukuran tempe lantara harga kedelai melonjak. 

Dia pernah mencoba kedelai lokal, namun hasilnya kurang maksimal. Menjadikan dia kurang puas dan kurang yakin dengan kualitas kedelai lokal untuk pembuatan tempe.

Meski harga kedelai naik, Nur Santo tidak mengurangi jumlah produksi tempe setiap harinya sebanyak tiga kuintal lantaran stok barang baku ada (tidak mengalami kelangkaan).

Dia juga belum menaikkan harga tempe di pasaran lantaran perajin tempe lainnya juga belum berani menaikkan harga jual tempe.

Perkecil ukuran

Guna menutup biaya pembelian bahan baku yang membengkak, dia pun mengurangi ukuran tempe 0,5 sentimeter pada setiap jenis ukuran yang diproduksi.

Hal tersebut dilakukan agar produsen tempe tidak merugi, dan bisa mendapatkan untung meski hanya sedikit.

Baca juga: Kendal Akan Kaya? Sumur-sumur Minyak Rakyat Segera Beroperasi

"Harga tempe belum naik selagi produsen tempe yang lainnya belum sepakat menaikkan harga. Terutama produsen tahu. Jika harga tahu naik, biasanya tempe juga naik," ujar dia.

Untuk ukuran tempe 15x7 sentimeter yang dijual dengan harga Rp 2.500, kini diubah menjadi 15x6,5 sentimeter.

Pada ukuran 17x9 sentimeter yang dijual Rp 4.000, menjadi 17x8,5 sentimeter.

Pengurangan 0,5 sentimeter juga berlaku pada ukuran tempe 2 meter yang dijual dalam bentuk potongan sesuai permintaan.

"Prinsip harga gak naik, tapi ukuran diperkecil, otomatis isinya akan berkurang. Mau enggak mau harus dilakukan, agar kami masih tetap bertahan," tutur dia.

Nur Santo juga mengeluhkan harga plastik naik 100 persen. Dari sebelumnya Rp 36.000 per kilogram, kini menjadi Rp 72.000 per kilogram.

Kondisi ini secara otomatis semakin menjerat para perajin tempe dan tahu yang saat ini masih menggunakan plastik. Termasuk Nur Santo dengan kebutuhan plastik per harinya mencapai dua kilogram untuk 3 kuintal kedelai.

"Sebagai perajin, harapan kami harga kedelai segera kembali stabil sebelum harga tempe naik. Sudah plastik mahal, bahan baku kedelai juga mahal, nanti kalau harga tempe ikut naik, yang ada masyarakat semakin resah," ucap dia.

Dengan kenaikan harga kedelai, omzet Nur Santo menurun sekitar 5-10 persen. Namun masih tetap untung walau sedikit dengan upaya mengurangi ukuran tempe. (Sam)

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved