Kamis, 7 Mei 2026

Berita Jateng

Ukuran Tempe Mengecil Imbas Harga Kedelai dari Amerika Naik

Harga kedelai impor tercatat mengalami kenaikan signifikan dalam sebulan terakhir sejak awal Maret 2026

Tayang:
Penulis: Saiful Masum | Editor: khoirul muzaki
Tribun Banyumas/Saiful Masum
CEK TEMPE - Perajin tempe di Desa Pecangaan Timur, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Nur Santo (40) sedang mengecek tempe yang diproduksinya, Jumat (3/4/2026). Dia mengurangi ukuran tempe lantara harga kedelai melonjak. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA- Harga kedelai impor tercatat mengalami kenaikan signifikan dalam sebulan terakhir sejak awal Maret 2026. Kenaikannya bahkan mencapai 30 - 50 persen dari harga normal pada umumnya.

Satu di antara penyebab kenaikan harga kedelai impor dipicu meningkatnya eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Satu di antara jenis kedelai yang mengalami lonjakan harga adalah produk rekayasa genetik dengan bahan baku utama dari Amerika Serikat, dinilai memiliki ukuran yang relatif lebih besar.

Kenaikan harga kedelai ini sudah dirasakan di tingkat perajin tempe dan tahu. Meskipun masyarakat pada umumnya belum merasakan langsung kenaikan harga tempe dan tahu dampak naiknya harga bahan baku kedelai.

Di tingkat perajin tahu dan tempe, kenaikan harga bahan baku kedelai mampu menggoyang kestabilan produksi.

Seperti yang terjadi di rumah produksi Tempe Super Isal Jaya milik Nur Santo (40) di Desa Pecangaan Timur, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara.

Nur Santo merupakan satu di antara 34 perajin tahu dan tempe di Desa Pecangaan Timur. Hanya saja, dia lebih fokus pada usaha produksi tempe saja sejak dirintis 1996.

Artinya, usaha Tempe Super Isal Jaya sudah berjalan 31 tahun. Dan kini produksinya sudah berkembang pesat dari sebelumnya hanya memproduksi 25 kilogram kedelai setiap harinya, kini mencapai tiga kuintal kedelai dalam sehari.

Tempe yang diproduksi Nur Santo sudah memiliki bakol tetap di Pasar Pecangaan dan Pasar Mayong. Sehingga produksi tempe Nur Santo tetap stabil dalam beberapa tahun terakhir.

"Usaha tempe ini awalnya saya ikut paman di Mayong, kemudian mendirikan sendiri kecil-kecilan. Dan saat ini sudah produksi 3 kuintal dalam sehari dibantu empat orang karyawan," terangnya Jumat (3/4/2026).

Naik turunnya harga bahan baku kedelai menjadi tantangan bagi setiap perajin tahu dan tempe.

Pada awal 2026 tepatnya sejak awal Maret, Nur Santo menyebut bahwa bahan baku tempe yaitu kedelai mengalami kenaikan.

Kata dia, dari sebelumnya harga kedelai Rp 8.600 per kilogram menjadi Rp 11.000 per kilogram. Harga tersebut berlaku bagi kedelai impor yang dinilai lebih bagus untuk pembuatan tempe.

"Naiknya (harga kedelai) awal puasa (Ramadan). Mungkin karena faktor perang juga berpengaruh. Karena bahan baku kedelai yang saya gunakan dari Amerika Serikat. Kalau gak kedelai impor, relatif kecil-kecil," ujar dia.

Nur Santo sudah lama memakai jenis kedelai impor dari Amerika Serikat karena sudah terbukti memiliki kualitas bagus.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved