Jawa Tengah
Sikapi Mudik Gratis, Organda Semarang Berharap Libatkan Bus AKAP
Menjelang arus mudik Lebaran 2026, DPC Organda Semarang menyoroti maraknya program mudik gratis berpotensi menggerus pendapatan pengusaha bus
Penulis: budi susanto | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- DPC Organda Kota Semarang menyambut baik program mudik gratis dari pemerintah, namun khawatir hal itu berdampak pada omzet pengusaha angkutan reguler.
- Momen mudik Lebaran selama ini diandalkan oleh para pengusaha bus sebagai masa "panen" untuk menutup besarnya biaya operasional tahunan.
- Organda berharap instansi penyelenggara mudik gratis, seperti BUMN dan Polri, bersedia menyewa bus AKAP dan AKDP yang sudah beroperasi.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Menjelang arus mudik dan balik Lebaran Idulfitri 2026, berbagai persiapan mulai dilakukan pemerintah untuk memfasilitasi masyarakat yang hendak pulang ke kampung halaman. Salah satu program primadona yang kembali digelar adalah mudik gratis.
Program ini memang disambut baik oleh banyak kalangan karena dinilai sangat membantu masyarakat menghemat biaya perjalanan.
Namun di balik euforia itu, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang menyimpan kekhawatiran tersendiri.
Baca juga: Habis! Kuota Mudik Gratis Cilacap dari Jakarta - Bandung Ludes Dipesan
Ancam Omzet Pengusaha
Organda menilai, program mudik gratis berpotensi berdampak langsung pada pendapatan para pengusaha angkutan umum, khususnya bus reguler, yang selama ini selalu mengandalkan momentum Lebaran sebagai masa panen penumpang.
Ketua Organda Kota Semarang, Bambang Pranoto Purnomo, mengatakan pihaknya telah mengikuti roadmap atau agenda persiapan mudik Lebaran yang digelar Satlantas Polrestabes Semarang bersama sejumlah pemangku kepentingan.
Dalam forum tersebut, berbagai langkah antisipasi dilakukan untuk memastikan perjalanan masyarakat selama masa mudik berlangsung aman. Namun Bambang menilai, di tengah upaya tersebut, pemerintah juga perlu memperhatikan nasib kelangsungan hidup pelaku usaha transportasi.
Ia menjelaskan, bagi pengusaha bus, periode Lebaran merupakan momen penting karena terjadi lonjakan jumlah penumpang yang sangat signifikan. Pendapatan pada masa tersebut kerap menjadi penopang utama bagi biaya operasional usaha transportasi sepanjang tahun.
"Program ini tentu menunjukkan kepedulian pemerintah, tetapi secara tidak langsung juga bisa mengurangi pendapatan pengusaha angkutan penumpang. Padahal mereka melayani masyarakat setiap hari, dan momentum Lebaran biasanya menjadi masa panen bagi usaha transportasi," ungkap Bambang.
Harap Libatkan AKAP
Oleh karena itu, Organda sangat berharap program mudik gratis yang diselenggarakan oleh berbagai instansi, baik melalui kementerian, BUMN, maupun Polri, dapat melibatkan armada bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKDP) yang sudah rutin beroperasi.
Menurut Bambang, langkah pemberdayaan tersebut dapat menjadi solusi jitu (win-win solution) agar program mudik gratis tetap berjalan lancar, sekaligus tidak merugikan pelaku usaha transportasi yang selama ini menjadi tulang punggung layanan angkutan darat.
"Harapan kami, BUMN maupun Polri yang menyelenggarakan mudik gratis bisa menggunakan bus AKAP atau AKDP yang sudah berjalan, sehingga tidak mengurangi pendapatan para pengusaha yang setiap tahun mengandalkan momen mudik sebagai masa panen," imbuhnya.
Cek Kelaikan Armada
Di sisi lain, Sekretaris Organda Semarang, Suyatmin, menegaskan bahwa pihaknya tetap mendukung penuh upaya pemerintah dalam memberikan fasilitas bagi masyarakat. Ia juga mengingatkan para pengusaha angkutan untuk meningkatkan kewaspadaannya.
Hal ini menyusul masih maraknya ancaman kecelakaan transportasi umum, khususnya bus, yang rawan terjadi saat puncak arus mudik maupun arus balik.
"Armada harus benar-benar dicek, termasuk melalui ramp check untuk memastikan kelaikan kendaraan sebelum beroperasi," kata Suyatmin kepada Tribun Jateng, Sabtu (14/3/2026).
Ia menambahkan, jaminan keselamatan perjalanan tidak hanya bergantung pada kondisi mesin kendaraan, tetapi juga kesiapan fisik pengemudi. Karena itu, pemeriksaan kesehatan fisik dan mental para sopir juga menjadi hal yang mutlak dilakukan.
"Setelah armada dipastikan layak jalan, pengemudi juga harus dalam kondisi sehat, baik fisik maupun mental. Jangan sampai karena kelelahan atau alasan lain, pengemudi justru menggunakan obat-obatan terlarang yang sifatnya memacu stamina," pungkasnya memberikan peringatan keras. (Bud)
| Razia Dini Hari di Desa Sikuang, 89 Motor Balap Liar Kena Tilang |
|
|---|
| Target Rebut Kursi 2029, DPW PPP Jateng Minta Kader Nongkrong Bareng Anak Muda |
|
|---|
| Bawa Uang Rp646 Ribu, Pria Ini Akhiri Hidup di Kebun Alpukat |
|
|---|
| Viral di Grup WA Atap Seng Terbang, Camat Pastikan Itu Kejadian Wanayasa |
|
|---|
| Beredar Video Anggota Fraksi PDIP Sebat di Ruang AC, Ketua DPRD Jateng Janji Tegur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260314-semarang-organda-mudik-gratis.jpg)