Berita Jateng
Ketua BEM UGM Tiyo Ceritakan Teror Terbaru yang Dialami Ibunya Usai Kritik MBG
Baginya itu bagian dari risiko yang dihadapi saat lantang bersuara dalam rangka mengkritik penguasa
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: khoirul muzaki
“Sekarang ibu sudah aman. Saya beri penjelasan sebelumnya,” kata Tiyo.
Baca juga: Warga Kampung Laut Demo ke Kantor Pertanahan Cilacap, Tuntut Kejelasan Status Lahan Nusakambangan
Teror rupanya tidak hanya menimpa Tiyo dan keluarganya. Kurang lebih 30 sampai 40 orang pengurus BEM UGM juga mendapatkan teror serupa sebelumnya. Namun mereka paham bahwa semua itu merupakan dampak dari sikap politik BEM UGM yang memilih berseberangan dengan pemerintah.
Semua itu dilakukan bukan karena untuk mendistorsi program pemerintah di bawah kendali Prabowo Subianto di antaranya program MBG merupakan singkatan dari Makan Bergizi Gratis yang oleh Tiyo kemudian disebut sebagai Maling Berkedok Gizi.
Soal sebutan yang terakhir tersebut Tiyo sudah menjelaskan di banyak tempat. Misalnya karena ketidakberpihakan rezim terhadap pendidikan malah memilih menjalankan MBG yang pada praktiknya jauh panggang dari api.
Dari seluruh rangkaian kritik yang dia lontarkan bukan karena dia benci kepada negeri ini. Semua itu dilakukan karena dia ingin negeri ini berjalan ke arah yang lebih baik.
Kritik demi kritik yang selama ini dilontarkan oleh Tiyo maupun aktivis dan akademisi atas pelaksanaan MBG dianalogikan sebagai obat.
Oleh sebab itu dia menyayangkan kalau sampai rezim menutup telinga atas seluruh kritik yang disampaikan berbasis data dan fakta di lapangan.
“Ini republik yang sakit. Negeri ini sakit dan orang memberi kritik ke republik ibarat dokter yang memberi obat. Termasuk para aktivis, akademisi yang mengkritisi MBG karena ingin memberi obat bagi republik ini,” kata Tiyo. (Goz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/tiyo-ardianto-bem-ugm.jpg)