Selasa, 5 Mei 2026

Jawa Tengah

Prediksi 1 Ramadan 2026 Jatuh Kamis 19 Februari, Hilal Belum Terlihat

Tim Hisab Rukyat Kemenag prediksi 1 Ramadan pada Kamis (19/2/2026) usai hilal tak terlihat di Semarang, Selasa (17/2). Muhammadiyah mulai Rabu besok.

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Banyumas/iwan Arifianto
Hilal Tidak Terlihat, Petugas melakukan pemantauan rukyatul hilal menggunakan teleskop di Planetarium UIN Walisongo Semarang, Selasa (17/2/2026) petang. Hasil pengamatan memprediksi 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis (19/2/2026) karena posisi hilal masih di bawah ufuk. 

Ringkasan Berita:
  • Hisab Rukyatul Hilal Kemenag RI memprediksi 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
  • Hasil pengamatan di Planetarium UIN Walisongo menunjukkan hilal tidak terlihat karena konjungsi (ijtimak) baru terjadi pukul 19.01 WIB.
  • Awal Ramadan di Indonesia diperkirakan akan sama dengan di Arab Saudi karena posisi bulan yang serupa.
  • Warga Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa pada Rabu, 18 Februari 2026, menggunakan metode KHGT.

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Anggota Tim Hisab Rukyatul Hilal Kementerian Agama (Kemenag) RI, Slamet Hambali menyebut, 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Keputusan ini diambil selepas melakukan pengamatan rukyatul hilal di Planetarium UIN Walisongo Semarang, Selasa (17/2/2026) petang.

Slamet mengatakan, keputusan ini didasarkan pada hasil pantauan yang menunjukkan hilal tidak terlihat.

Baca juga: 1 Ramadan Kabupaten Wonosobo Jatuh Hari Apa, Bupati Minta Hormati Perbedaan

Hal tersebut terjadi karena ijtimak atau konjungsi belum berlangsung saat matahari terbenam.

Ijtimak sendiri merupakan peristiwa di mana Bumi, Matahari, dan Bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari Bumi.

Hilal Tak Terlihat

"Konjungsi baru terjadi pukul 19.01 WIB sehingga bulan dipastikan terbenam lebih dulu dari matahari. Karena itu, bisa diprediksikan 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026," ucap Slamet kepada wartawan.

Slamet menyebut, jatuhnya bulan Ramadan di Indonesia kemungkinan besar sama dengan di Arab Saudi.

Hal itu terjadi karena posisi bulan saat matahari terbenam di Indonesia juga persis terjadi di Arab Saudi.

"Karena itu awal Ramadan di Arab Saudi diperkirakan tidak berbeda jauh dengan Indonesia," papar Dosen Falak UIN Walisongo Semarang itu.

Selama proses pengamatan, petugas menempatkan empat unit teleskop yang diarahkan ke barat menyasar senja di langit ufuk.

Hasil pantauan ini menjadi pedoman bagi masyarakat, terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama.

Perbedaan Metode KHGT

Sebaliknya, warga Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan pada Rabu (18/2/2026) besok.

Untuk itu, salat tarawih bagi warga Muhammadiyah sudah dilakukan pada Selasa (17/2/2026) malam.

Slamet tidak mempersoalkan Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan lebih awal.

Sebab, organisasi tersebut menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis kriteria posisi bulan secara global.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved