Kamis, 23 April 2026

Berita Pati

Banjir Pati Berujung Maut: Bakteri Kencing Tikus Mengganas, Lansia Paling Rentan

Angka ini tergolong sangat mengkhawatirkan karena telah melampaui separuh dari total kasus sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebanyak 61 kasus.

Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: Rustam Aji
Tribun Banyumas
KIRIM BANTUAN - Anggota DPR RI Harmusa Oktaviani bersama rombongan dari DPC Partai Demokrat Pati turun langsung memberikan bantuan secara door to door kepada korban banjir di Juwana, Pati, Minggu (25/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  •  Jangan sepelekan nyeri betis & demam setelah banjir, bisa jadi leptospirosis
  • Baru Januari 2026, sudah 35 warga Pati terjangkit & 4 orang meninggal
  • Dinkes Pati imbau warga gunakan deterjen untuk sterilisasi air banjir. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PATI – Ancaman maut mengintai warga Kabupaten Pati di tengah genangan banjir yang belum sepenuhnya surut. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati melaporkan ledakan kasus leptospirosis yang telah merenggut empat nyawa hanya dalam kurun waktu satu bulan sepanjang Januari 2026.

Hingga pekan terakhir Januari, tercatat sebanyak 35 warga dinyatakan positif terjangkit bakteri yang ditularkan melalui urin hewan tersebut.

Angka ini tergolong sangat mengkhawatirkan karena telah melampaui separuh dari total kasus sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebanyak 61 kasus.

Ketua Tim Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Pati, Yanti, mengungkapkan bahwa mayoritas penderita adalah lansia.

Kasus tersebut tersebar merata di wilayah terdampak banjir, mulai dari Kecamatan Juwana, Jaken, Margoyoso, hingga wilayah lain seperti Trangkil, Dukuhseti, Batangan, dan Wedarijaksa.

Bahaya Gejala Mirip Sakit Biasa Yanti menekankan bahwa tingginya angka fatalitas di Kabupaten Pati dipicu oleh keterlambatan penanganan medis. Banyak masyarakat yang menganggap remeh gejala awal karena kemiripannya dengan penyakit demam biasa.

Baca juga: Waspada Leptospirosis saat Banjir, Berikut Cara Pencegahan dan Gejalanya

"Yang menjadi masalah ketika datangnya (ke faskes) itu terlambat. Masyarakat awam tidak tahu, dikira penyakit biasa saja," ujar Yanti saat memberikan keterangan resmi, Sabtu (31/1/2026).

Pihaknya menjelaskan, gejala leptospirosis meliputi demam tinggi, sakit kepala, mata merah, nyeri betis, lemas, hingga kulit yang menguning.

Jika tidak segera diobati dengan antibiotik, infeksi bakteri Leptospira ini dapat memicu komplikasi fatal berupa gagal ginjal akut.

Langkah Unik: Desinfeksi Pakai Deterjen

Sebagai langkah darurat memutus rantai penyebaran bakteri kencing tikus, Dinkes Pati menginstruksikan seluruh Puskesmas untuk melakukan desinfeksi pada genangan air pascabanjir. 

Uniknya, petugas menggunakan deterjen pembersih rumah tangga sebagai senjata utama.

Baca juga: 62 Warga Jateng Meninggal akibat Leptospirosis Pada 2024, Dinkes: Hindari Genangan Banjir

"Kami sudah instruksikan petugas Puskesmas memberikan desinfektan berupa deterjen ke genangan air. Ini efektif membunuh bakteri namun tetap ramah lingkungan," jelas Yanti.

Warga diimbau untuk selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu bot dan sarung tangan saat membersihkan sisa banjir.

Jika mengalami gejala nyeri betis dan demam setelah kontak dengan air banjir, warga diminta segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan dini sebelum terjadi komplikasi organ. (mzk)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved