Minggu, 26 April 2026

Berita Jateng

Trans Jateng Koridor Magelang-Temanggung Digarap, Ditarget 2027 Beroperasi

Koridor Gelangmanggung direncanakan melayani rute Terminal Maron (Kabupaten Temanggung)-Terminal Tidar (Kota Magelang)-Terminal Borobudur

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Rustam Aji
AI GENERATED
TRANS JATENG - Ilustrasi armada bus Trans Jateng yang melayani rute antarkota di Jawa Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Rencana pembentukan koridor di Magelang-Temanggung merupakan kabar baik
  • Rencana pembukaan koridor Magelang-Temanggung dinilai merupakan langkah yang tepat karena jalur tersebut merupakan jalur potensial menghubungkan trayek Kutoarjo ke Borobudur.
  • Pembukaan rute ini juga  diharapkan bisa menghidupkan kembali perusahaan Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) di jalur itu yang "hidup segan mati tak mau".

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jawa Tengah koridor Magelang-Temanggung (Gelangmanggung) bakal mengaspal mulai tahun 2027.

Koridor ini akan melengkapi tujuh koridor lainnya di aspal Jawa Tengah. Namun, pakar transportasi mengingatkan Pemprov Jateng untuk terus membuka koridor di daerah lainnya karena setidaknya wilayah ini membutuhkan sebanyak 30 koridor.

Rute koridor lain yang mendesak untuk segera direalisasikan adalah rute Jepara-Kudus-Pati (Jekuti) dan Pekalongan-Batang.

"Rencana pembentukan koridor di Magelang-Temanggung merupakan kabar baik tetapi melihat aglomerasi daerah di Jateng setidaknya membutuhkan 30 koridor sehingga Pemprov perlu membuka jalur koridor baru yang urgent dibuka seperti Jekuti dan Pekalongan-Batang," ujar Pakar Transportasi dari Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno kepada Tribun, Jumat (23/1/2026).

Djoko menyebut, rencana pembukaan koridor Magelang-Temanggung merupakan langkah yang tepat karena jalur tersebut merupakan jalur potensial menghubungkan trayek Kutoarjo ke Borobudur.

Pembukaan rute ini juga  diharapkan bisa menghidupkan kembali perusahaan Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) di jalur itu yang "hidup segan mati tak mau".

Perusahaan tersebut bisa diajak dalam skema Buy The Service (BTS), artinya sopir dan pengusaha eksisting diberikan kesempatan untuk bergabung dalam konsorsium pengelola. Tujuannya, agar tidak berebutan penumpang dan tidak mematikan transportasi lokal.

"Ya penting operatornya adalah operator anggota existing saja. Sehingga tidak mematikan mereka, justru mereka biar hidup kembali dengan pola subsidi," ucapnya.

Baca juga: Bus Trans Jateng dan Kereta Api Prameks Diusulkan Buka Rute di Kebumen

Pemrov Jateng sebelumnya telah membuka tujuh koridor meliputi Semarang-Bawen (Kedungsepur), Purwokerto-Purbalingga (Barlingmascakep), Semarang-Kendal (Kedungsepur), Magelang-Purworejo (Purwomanggung), Solo-Sragen (Subosukawonosraten), Semarang-Grobogan (Kedungsepur), serta Solo-Wonogiri (Subosukawonosraten).

Berkaitan dengan urgensi pembukaan koridor lainnya Djoko menilai trayek Jekuti dan Pekalongan-Batang perlu segera dibuka. 

Wilayah Cekuti cukup strategis dalam pengoperasian angkutan umum di jalur itu. Untuk koridor Pekalongan-Batang juga sama-sama strategis karena berkaitan koneksi dengan  Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).

"Pemerintah daerah lainnya juga sudah ada yang meminta pembukaan Trans Jateng di daerahnya seperti Brebes, Tegal (Kota) dan Slawi (Kabupaten Tegal)," bebernya.

Djoko menyarankan, Trans Jateng agar lebih cepat dalam bergerak membuka koridor baru perlu melakukan sejumlah inovasi.

Inovasi tersebut bisa dilakukan dengan pembaharuan lembaga yang diubah menjadi  Badan Layanan Umum (BLU).

Perubahan kelembagaan ini bertujuan agar leluasa mencari mencari  sumber-sumber pendapatan lainnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved