Sabtu, 2 Mei 2026

Hidup Berdampingan dengan Longsor, Warga Lereng Batang Bertahan di Tengah Ancaman

Bagi mereka, longsor bukan cerita baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/Dok BPBD Batang
KEJADIAN LONGSOR - Suasana warga bersama BPBD Batang melakukan pembersihan bekas longsor di ruas jalan Desa Rejosari - Sigemplong Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. 

Ringkasan Berita:
  • Warga di wilayah atas (lereng) Kabupaten Batang selalu waspada setiap hujan tiba
  • Pasalnya, bagi mereka, longsor bukan cerita baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
  • Sejumlah kecamatan di wilayah atas Batang seperti Bandar, Blado, Bawang, Reban, dan Wonotunggal merupakan daerah yang memiliki potensi tanah longsor cukup tinggi.
  • Edukasi kebencanaan menjadi langkah utama BPBD, terutama karena relokasi warga dari daerah rawan longsor bukan perkara mudah.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Batang atas seperti Bandar, Blado, Bawang, Reban, dan Wonotunggal, merupakan daerah yang memiliki potensi tanah longsor cukup tinggi.

Bagi warga setempat, longsor bukan cerita baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, setiap musim hujan tiba, warga di wilayah atas Kabupaten Batang selalu punya kebiasaan yang sama, lebih sering menengok tebing di belakang rumah, memperhatikan tanah di halaman, dan memastikan tidak ada retakan baru yang muncul. 

“Secara geografis memang seperti itu. Longsor itu alamnya seperti itu, tugas kami mengedukasi,” kata Kepala BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansya,  kepada Tribunjateng, Selasa (13/1/2026).

Menurutnya, edukasi kebencanaan menjadi langkah utama BPBD, terutama karena relokasi warga dari daerah rawan longsor bukan perkara mudah.

Idealnya, pemukiman di wilayah dengan risiko tinggi memang dipindahkan. 

Namun di lapangan, hal tersebut sering kali tak bisa diwujudkan.

“Banyak warga sudah turun-temurun tinggal di sana. Kalau direlokasi, tidak mau,” ujarnya.

Satu di antaranya contoh terdapat di Desa Pranten, wilayah pegunungan yang kerap menjadi perhatian BPBD. 

Baca juga: Kalah 0-3 dari Dewa United, Persijap Jadi Juru Kuci, Divaldo Keluhkan Pemain Inti Absen

Warga setempat sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan potensi longsor dan memahami betul tanda-tandanya.

“Kalau mulai ada retakan di tanah, itu sudah jadi tanda awal. Warga biasanya langsung waspada,” jelasnya.

Pada puncak musim hujan, sebagian warga bahkan memilih langkah aman dengan mengungsi sementara ke rumah saudara yang berada di lokasi lebih aman.

“Ada yang memilih mengungsi dulu. Nanti kalau sudah musim kemarau, mereka kembali lagi,” tuturnya.

Di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, tercatat ada delapan kepala keluarga yang tinggal di kawasan rawan. 

Baca juga: Kuota Haji Jawa Tengah Nambah 3.745 Orang, Ada yang Berangkat dari Embarkasi YIA

Meski demikian, mereka sudah memahami risiko dan langkah antisipasi yang harus dilakukan.

“Mereka sudah tahu. Yang penting waspada dan rutin mengecek kondisi sekitar,” ungkapnya.

Bagi warga lereng Batang, bertahan bukan berarti pasrah. 

Kewaspadaan, pengalaman hidup, dan saling mengingatkan antarwarga menjadi benteng utama. 

Di tengah hujan yang terus turun, mereka belajar membaca alam, karena di sanalah rumah yang telah mereka jaga selama generasi. (Ito)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved