Berita Semarang
Kondisi Sedimentasi Tinggi, Normalisasi Sungai Bringin Semarang Terkendala Anggaran
Sungai Bringin sudah mengalami penumpukan sedimen, namun pengerukan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Sedimentasi di sejumlah sungai Semarang mulai meningkat dan berdampak pada kapasitas aliran sungai.
- Beberapa sungai seperti Sungai Plumbon dan Bringin saat ini mengalami pendangkalan.
- namun pengerukan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena terkendala anggaran
- Penanganan yang lebih berkelanjutan harus dimulai dari wilayah hulu. Di antaranya dengan memperbaiki kawasan tangkapan dan resapan air.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Pendangkalan sejumlah sungai di Kota Semarang akibat sedimentasi meningkat dan berdampak pada kapasitas aliran sungai.
Namun, untuk pengerukan sedimen terkendala anggaran.
Seperti Sungai Plumbon dan Bringin, sudah mengalami pendangkalan parah sehingga memicu banjir akibat limpasan air yang tak tertampung.
Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Sudarto, Sungai Bringin sudah mengalami penumpukan sedimen, namun pengerukan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama, meskipun penanganan tersebut telah masuk dalam perencanaan.
"Sedimennya sudah terlalu tinggi. Sebenarnya penanganan itu tidak cukup kalau hanya dikeruk karena biayanya besar. Harus dilakukan secara komprehensif," ujar Sudarto, kemarin.
Untuk itu, ia mengusulkan penanganan yang lebih berkelanjutan harus dimulai dari wilayah hulu.
Baca juga: Tiga Pelari asal Kenya Tercepat di Semarang 10K, Selesaikan Rute Hanya 30 Menit
Di antaranya dengan memperbaiki kawasan tangkapan dan resapan air.
"Harusnya mulai dari hulu. Mungkin perlu ada daerah-daerah tangkapan resapan air, supaya konservasi di hulunya itu lebih baik, sehingga sedimen tidak banyak masuk ke sungai-sungai," terangnya.
Ia menegaskan, upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum, tetapi perlu melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi kehutanan, dan institusi terkait lainnya, termasuk masyarakat.
Sudarto juga mendorong penerapan resapan air di lingkungan permukiman.
"Kalau bisa setiap rumah itu bisa buat resapan. Dengan membuat resapan kan air itu tidak semua masuk ke selokan. Kalau satu rumah itu punya 2 kubik saja, kalau 1 juta rumah sudah 2 juta kubik. Besar, kan?," tegasnya.
Menurutnya, resapan air berfungsi mengurangi limpasan saat musim hujan dan menjadi cadangan air saat musim kemarau.
"Jadi harusnya ada di daerah seperti itu. Itu fungsinya ketika musim hujan mengurangi lipasan air, mengurangi beban sungai, dan selokan," jelasnya.
Terkait rencana normalisasi Sungai Bringin pada tahun depan, Sudarto menyebutkan masih bergantung pada ketersediaan anggaran.
Baca juga: Pembangunan Exit Tol di Ambarawa Semarang Picu Kemacetan, Pengguna Jalan Diimbau Lewat Jalan Lingkar
| Tiga Pelari asal Kenya Tercepat di Semarang 10K, Selesaikan Rute Hanya 30 Menit |
|
|---|
| Cemari Lingkungan, Penambang Batu Granit Baseh Banyumas Diberi Waktu 60 Hari Laksanakan Rekomendasi |
|
|---|
| Cuma Rp10 Ribu, Main Kano di Kebumen Dapat Bonus Es Kelapa Muda Gratis |
|
|---|
| Meriahnya Festival Koinobori, Alun-alun Wonosobo Mendadak Dipenuhi 'Anak-anak Jepang' |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/sedimen-sungai-bringin.jpg)