Berita Jateng
Melihat Rumah-rumah Kuno di Jagalan Semarang, Usia Seabad Lebih Masih Kokoh
sebuah rumah tampak lebih mencolok dengan fasad rumah bagian atas tertera angka "1921
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG -Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, dikenal sebagai kawasan yang menyimpan banyak bangunan kuno bersejarah.
Di Kampung Bang Inggris, sejumlah bangunan rumah tua masih berdiri kokoh. Di antara bangunan tersebut, sebuah rumah tampak lebih mencolok dengan fasad rumah bagian atas tertera angka "1921" yang tampak menonjol dari permukaan tembok.
Meski hanya rumah tersebut yang menunjukkan angka tahun, beberapa rumah lain tampak memiliki karakteristik serupa.
Yakni memiliki tiga pintu utama yang sejajar, sama dengan belakang. Selain itu, tampak pula penggunaan kayu jati yang dipadukan dalam struktur bangunan, terutama pada bagian penyangga atap dan rangka pintu.
Tribun Jateng menyambangi rumah tersebut, Jumat (10/10/2025).
Zaenuri, pemilik rumah menjelaskan, rumah tersebut telah dibangun sejak masa kakeknya, Haji Maksum.
"Itu sejarahnya dari (cerita) Bapak saya, dibangun sekitar tahun 1921. Kalau dilihat dari kelahiran bapak saya, bapak saya kelahiran tahun 1927. Berarti mungkin dari Mbah ya, dari Mbah Haji Maksum. Berarti ini sudah generasi keempat," tetang Zaenuri yang juga Ketua RW VIII kelurahan tersebut kepada Tribun Jateng.
Zaenuri menerangkan, rumah yang kini dihuninya bersama keluarganya tersebut hingga kini masih mempertahankan bangunan asli meski beberapa kali dilakukan perbaikan.
"Betul ada perbaikan, tapi tidak mengubah rumah bentuk aslinya. Dan dulu ini ada 'sorokan'-nya," terangnya.
"Jadi, kalau ada tentara penjajah, itu lewat sorokan itu ditutup," ceritanya.
Zaenuri menyebutkan, struktur bangunan rumah tersebut memang berbeda, di mana dibangun dengan teknik bangunan tradisional tanpa menggunakan pondasi beton.
Dinding-dinding rumah awalnya dibentuk dari campuran pasir dan kapur, sedangkan bagian bawah hanya ditopang oleh susunan batu bata yang ditumpuk tanpa tulangan besi. Pada beberapa bagian, struktur disisipi kayu jati yang berfungsi sebagai penguat sekaligus penyangga bangunan.
Kayu jati masih menjadi material utama dalam konstruksi rumah. Menurut Zaenuri, daya tahan kayu tersebut telah teruji oleh waktu.
"Kayu jatinya sampai sekarang masih berdiri kokoh, tidak dimakan rayap dan tidak keropos," jelasnya.
Ia menambahkan, ciri khas lain dari rumah ini adalah keberadaan tiga pintu utama yang tersusun sejajar dari depan, tengah, hingga belakang rumah. Ciri ini, menurut Zaenuri, juga ditemukan di sejumlah rumah lain yang masih mempertahankan bentuk aslinya di kampung tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Rumah-seabad-semarang.jpg)