Iran Vs Israel dan Amerika
G7 Memanas: Menlu AS Marco Rubio Sindir Sekutu Eropa yang Enggan Bantu di Timur Tengah
Pertemuan Menlu G7 di Perancis diwarnai adu argumen. Menlu AS Marco Rubio kritik sekutu Eropa yang enggan bantu di Selat Hormuz
Ringkasan Berita:
- Pertemuan menteri luar negeri negara-negara anggota G7 di Perancis berakhir dengan ketegangan diplomatik yang tajam.
- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutu Eropa yang dinilai enggan memberikan dukungan militer di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz.
- Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyebut tekanan AS tersebut "menjengkelkan" dan menegaskan bahwa persyaratan hukum untuk operasi semacam itu belum terpenuhi.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PARIS – Pertemuan menteri luar negeri negara-negara anggota G7 di Perancis berakhir dengan ketegangan diplomatik yang tajam.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutu Eropa yang dinilai enggan memberikan dukungan militer di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz.
Ketegangan ini dipicu oleh desakan Presiden AS Donald Trump agar negara-negara Eropa turut mengerahkan kekuatan angkatan laut mereka guna mengamankan jalur pelayaran dari ancaman Iran.
Rubio menyebut sikap dingin Eropa sebagai bentuk ketidakadilan, mengingat Washington telah mengalokasikan bantuan besar-besaran untuk mempertahankan kedaulatan Eropa di Ukraina.
"AS terus-menerus diminta membantu dalam sebuah perang (Ukraina). Namun, ketika AS memiliki kebutuhan, ia tidak mendapatkan respons yang positif," tegas Rubio sebelum bertolak dari lokasi pertemuan, Jumat (27/3/2026).
Rubio memperingatkan bahwa keengganan sekutu saat ini akan menjadi catatan khusus bagi Presiden Trump dalam menentukan arah kebijakan luar negeri AS di masa depan.
Baca juga: SPBU di Purwokerto Diserbu Warga di Tengah Kabar Kenaikan Harga, Antrean BBM Nonsubsidi Mengular
Menurutnya, meskipun Ukraina bukan "perang milik AS", Washington telah berkontribusi lebih besar dibandingkan negara mana pun di dunia.
Eropa Tolak Terjerat Konflik Timur Tengah
Di sisi lain, blok Eropa secara tegas menyatakan keberatan untuk terlibat lebih jauh dalam konfrontasi militer di Timur Tengah selama situasi masih memanas.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyebut tekanan AS tersebut "menjengkelkan" dan menegaskan bahwa persyaratan hukum untuk operasi semacam itu belum terpenuhi.
Senada dengan Jerman, Prancis melalui juru bicara kementerian luar negerinya, Pascal Confavreux, menyatakan hanya akan mempertimbangkan misi defensif jika pengeboman telah berakhir.
"Kami telah memperjelas bahwa perang ini bukan perang kami dan kami tidak ingin terjerat di dalamnya," ujar Confavreux.
Kaitan Ukraina dan Iran
Mencoba meredam ketegangan, para diplomat Eropa mencoba meyakinkan AS bahwa konflik di Ukraina dan Timur Tengah sebenarnya saling berkaitan.
Diplomat tinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, menuduh Rusia memberikan bantuan intelijen kepada Iran untuk menargetkan aset-aset Amerika.
Baca juga: Cuan di Tengah Konflik Timur Tengah: Warga Semarang Incar Dividen BBRI dan Saham Murah
| SPBU di Purwokerto Diserbu Warga di Tengah Kabar Kenaikan Harga, Antrean BBM Nonsubsidi Mengular |
|
|---|
| Rencana Pembangunan Gedung DPRD Pekalongan Tetap Jalan |
|
|---|
| Cilacap Masuk Musim Kemarau Mulai Pertengahan Mei, Warga Binangun Diminta Antisipasi Kekeringan |
|
|---|
| Cuan di Tengah Konflik Timur Tengah: Warga Semarang Incar Dividen BBRI dan Saham Murah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/invasi-rusia-ke-ukraina-26-februari-2022.jpg)