Sabtu, 11 April 2026

Iran Vs Israel dan Amerika

G7 Memanas: Menlu AS Marco Rubio Sindir Sekutu Eropa yang Enggan Bantu di Timur Tengah

Pertemuan Menlu G7 di Perancis diwarnai adu argumen. Menlu AS Marco Rubio kritik sekutu Eropa yang enggan bantu di Selat Hormuz

Editor: Rustam Aji
AFP/Sergei SUPINSKY
MARAH KE EROPA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutu Eropa yang dinilai enggan memberikan dukungan militer di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz. Padahal, AS sudah bantu perang di Ukraina. 

Ringkasan Berita:
  • Pertemuan menteri luar negeri negara-negara anggota G7 di Perancis berakhir dengan ketegangan diplomatik yang tajam.
  • Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutu Eropa yang dinilai enggan memberikan dukungan militer di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz.
  • Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyebut tekanan AS tersebut "menjengkelkan" dan menegaskan bahwa persyaratan hukum untuk operasi semacam itu belum terpenuhi.

TRIBUNBANYUMAS.COM, PARIS – Pertemuan menteri luar negeri negara-negara anggota G7 di Perancis berakhir dengan ketegangan diplomatik yang tajam.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutu Eropa yang dinilai enggan memberikan dukungan militer di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz.

Ketegangan ini dipicu oleh desakan Presiden AS Donald Trump agar negara-negara Eropa turut mengerahkan kekuatan angkatan laut mereka guna mengamankan jalur pelayaran dari ancaman Iran.

Rubio menyebut sikap dingin Eropa sebagai bentuk ketidakadilan, mengingat Washington telah mengalokasikan bantuan besar-besaran untuk mempertahankan kedaulatan Eropa di Ukraina.

"AS terus-menerus diminta membantu dalam sebuah perang (Ukraina). Namun, ketika AS memiliki kebutuhan, ia tidak mendapatkan respons yang positif," tegas Rubio sebelum bertolak dari lokasi pertemuan, Jumat (27/3/2026).

Rubio memperingatkan bahwa keengganan sekutu saat ini akan menjadi catatan khusus bagi Presiden Trump dalam menentukan arah kebijakan luar negeri AS di masa depan.

Baca juga: SPBU di Purwokerto Diserbu Warga di Tengah Kabar Kenaikan Harga, Antrean BBM Nonsubsidi Mengular

Menurutnya, meskipun Ukraina bukan "perang milik AS", Washington telah berkontribusi lebih besar dibandingkan negara mana pun di dunia.

Eropa Tolak Terjerat Konflik Timur Tengah

Di sisi lain, blok Eropa secara tegas menyatakan keberatan untuk terlibat lebih jauh dalam konfrontasi militer di Timur Tengah selama situasi masih memanas.

Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyebut tekanan AS tersebut "menjengkelkan" dan menegaskan bahwa persyaratan hukum untuk operasi semacam itu belum terpenuhi.

Senada dengan Jerman, Prancis melalui juru bicara kementerian luar negerinya, Pascal Confavreux, menyatakan hanya akan mempertimbangkan misi defensif jika pengeboman telah berakhir.

"Kami telah memperjelas bahwa perang ini bukan perang kami dan kami tidak ingin terjerat di dalamnya," ujar Confavreux.

Kaitan Ukraina dan Iran

Mencoba meredam ketegangan, para diplomat Eropa mencoba meyakinkan AS bahwa konflik di Ukraina dan Timur Tengah sebenarnya saling berkaitan.

Diplomat tinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, menuduh Rusia memberikan bantuan intelijen kepada Iran untuk menargetkan aset-aset Amerika.

Baca juga: Cuan di Tengah Konflik Timur Tengah: Warga Semarang Incar Dividen BBRI dan Saham Murah

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved