Iran Vs Israel dan Amerika
Sekutu NATO Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz meski Trump Beri Tekanan
Donald Trump kesulitan bangun koalisi militer di Selat Hormuz. Inggris hingga Australia tolak kirim kapal perang di tengah lonjakan harga minyak.
Ringkasan Berita:
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini tengah berupaya keras membujuk sekutu dan kekuatan global untuk membentuk koalisi militer di Selat Hormuz.
- Meski mengklaim AS sebagai negara terkuat yang tidak membutuhkan bantuan, Trump mendesak setidaknya tujuh negara, termasuk China, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Perancis, untuk membantu mengamankan jalur tanker minyak yang kini diblokade Iran bagi pihak AS dan sekutunya.
- Upaya Trump membangun koalisi menemui jalan buntu.
TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini tengah berupaya keras membangun koalisi militer global guna mengamankan Selat Hormuz yang diblokade Iran.
Meski bersikeras AS adalah negara terkuat, Trump kini mulai "merayu" sedikitnya tujuh negara sekutu dan kekuatan ekonomi dunia untuk ikut mengamankan jalur vital tanker minyak tersebut.
Langkah ini diambil menyusul dampak geopolitik dan guncangan ekonomi yang kian tak terkendali pasca meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
"Kita akan melindungi mereka, tetapi ketika kita membutuhkan, mereka tidak akan melindungi kita," sindir Trump kepada para sekutunya, sebagaimana dikutip dari AP, Senin (16/3/2026).
Baca juga: Kesaksian Ahmad hukam Mujtaba di Teheran: Rakyat Iran Tak Terlihat Panik oleh Serangan AS-Israel
Sekutu Enggan Terseret Perang
Keinginan Trump membentuk koalisi militer menemui jalan buntu setelah sejumlah negara kunci menyatakan keengganan untuk terlibat dalam konflik bersenjata secara langsung:
Inggris: Perdana Menteri Keir Starmer hanya bersedia mengirim drone pemburu ranjau dan menolak mengirim kapal perang.
Italia: Menegaskan misi angkatan laut Uni Eropa di Laut Merah tidak akan diperluas hingga ke Selat Hormuz.
Australia: Secara eksplisit menolak pengiriman kapal ke kawasan konflik tersebut.
Kekecewaan Trump memuncak dengan menyebut sikap para sekutu tersebut sebagai bukti kelemahan NATO.
Tekanan Ekonomi dan Agenda Pemilu Paruh Waktu
Kebutuhan Trump akan bantuan internasional didorong oleh lonjakan tajam harga minyak yang mulai membebani warga Amerika.
Isu ini menjadi sangat sensitif mengingat AS akan segera memasuki musim pemilihan paruh waktu (midterm elections).
Baca juga: Megawati Surati Mojtaba Pimpinan Tertinggi Iran, Sampaikan Pikiran Bung Karno
Guna meredam keresahan publik, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengeklaim bahwa lonjakan harga ini hanyalah sementara.
Namun, ia tidak dapat memberikan jaminan kapan konflik bersenjata ini akan berakhir.
| Saling Kunci di Selat Hormuz: Iran Balas Blokade AS dengan Penyitaan Kapal |
|
|---|
| Iran Tak Datang ke Perundingan, Trump Tiba-tiba Umumkan Perpanjang Gencatan Senjata |
|
|---|
| Tensi Memanas Jelang Akhir Perundingan: Iran Ancam Tunjukkan 'Kartu Baru' di Medan Perang Lawan AS |
|
|---|
| Iran Klaim Pulihkan Kekuatan Rudal Lebih Cepat, Sebut AS-Israel Tak Mampu Isi Ulang Amunisi |
|
|---|
| Iran Ancam Balas Serangan Kapal Perusak AS: "Ini Pembajakan Bersenjata!" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/presiden-donald-trump-keluar-rumah-sakit-dan-kembali-ke-gedung-putih.jpg)