Iran Vs Israel dan Amerika
Kontraktif Sinyal Damai Trump di Selat Hormuz: Sebut Target Habis, tapi Iran Hantam Kapal Komersial
Presiden AS Donald Trump beri sinyal akhiri perang dengan Iran di tengah lonjakan harga minyak & serangan kapal komersial di Selat Hormuz.
Ringkasan Berita:
- Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberikan sinyal kuat bahwa operasi militer terhadap Iran dapat segera dihentikan.
- Meski kerap memberikan pesan yang simpang siur terkait garis waktu dan tujuan akhir perang ini, Trump kini mulai menunjukkan urgensi untuk menyudahi konflik.
- Presiden berusia 79 tahun tersebut kini berada di bawah tekanan politik yang besar.
TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan sinyal kuat untuk segera menghentikan operasi militer terhadap Iran.
Klaim tersebut muncul di tengah tekanan politik domestik dan guncangan ekonomi akibat lonjakan harga minyak global yang tak terkendali.
Dalam wawancara eksklusif dengan Axios, Trump menyatakan bahwa militer AS telah melumpuhkan sebagian besar kekuatan tempur Teheran, sehingga hampir tidak ada lagi target strategis yang tersisa untuk diserang.
"Kapan pun saya ingin perang ini berakhir, maka akan berakhir," tegas Trump sebagaimana dikutip dari AFP, Kamis (12/3/2026).
Klaim Kemenangan di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Meski Trump mengklaim angkatan laut, angkatan udara, hingga sistem pertahanan Iran telah "lenyap", situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi.
Pada Rabu (11/3/2026), Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan menyerang dua kapal komersial berbendera Liberia dan Thailand di jalur pelayaran Selat Hormuz.
Baca juga: Praperadilan Gugatan Yaqut Cholil Qoumas Kandas, Kasus Korupsi Kuota Haji di KPK Jalan Terus
Menanggapi insiden tersebut, Trump menjanjikan pemulihan keamanan di kawasan tersebut dalam waktu singkat. Ia mengeklaim pasukan AS telah menghancurkan sebagian besar kapal penyebar ranjau milik Iran dalam operasi kilat.
"Anda akan melihat keamanan yang luar biasa, dan itu akan terjadi dengan sangat, sangat cepat di selat tersebut," ujarnya.
Tekanan Politik dan Pemilihan Paruh Waktu
Langkah Trump untuk segera menyudahi konflik ini dinilai para analis sebagai upaya menyelamatkan elektabilitas partainya menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
Gedung Putih saat ini berada di bawah tekanan besar setelah dituduh meluncurkan perang tanpa persiapan matang atas konsekuensi ekonomi, terutama terkait krisis energi.
Hingga saat ini, Trump masih enggan berkomentar mengenai status kepemimpinan Iran di bawah Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ali Khamenei.
Meski tujuan awal AS adalah melenyapkan program nuklir dan rudal balistik, Trump tidak secara eksplisit menyatakan target perubahan rezim telah tercapai.
Baca juga: Cerita Ahmad Hukam di Jantung Teheran: Ungkap Detik-Detik Menegangkan Serangan Udara di Iran
Respons Israel dan Perlawanan Iran Sinyal penarikan mundur AS ini tampaknya tidak sejalan dengan sekutu utamanya.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut tanpa batas waktu sampai seluruh tujuan strategis tercapai sepenuhnya.
Sementara itu, Iran melalui IRGC memastikan kesiapan mereka untuk terus melakukan perlawanan balik, terutama di jalur-jalur logistik vital di kawasan Teluk. (ahmad naufal/kompas.com)
| Siap Layani Pemudik, Trans Banyumas Dijadwalkan Masuk Pintu Barat Stasiun Purwokerto Sebelum Lebaran |
|
|---|
| Praperadilan Gugatan Yaqut Cholil Qoumas Kandas, Kasus Korupsi Kuota Haji di KPK Jalan Terus |
|
|---|
| Awalnya Dapat Gratis untuk Dicoba, Remaja di Jepara jadi Pengedar Sabu. Terancam 12 Tahun Penjara |
|
|---|
| Harga Emas Antam Hari Ini, Kamis 12 Maret 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/iran-menawarkan-hadiah-rp-11-triliun-untuk-kepala-donald-trump.jpg)