Opini
Soemitronomics, Negara Pancasila, Pasar, dan Sebuah Keyakinan
Sumitro Djojohadikusumo adalah seorang ekonom yang berjalan di antara teori dan revolusi, antara statistik dan luka sejarah.
Ringkasan Berita:
- Perjalanan Soemitro sebagai intelektual dimulai pada Mei 1935.
- Soemitro lahir dari rahim republik, ketika kata merdeka belum selesai dieja dan ekonomi masih berupa reruntuhan gudang-gudang kolonial.
- Jika kita membaca jejaknya, kita tidak sedang membaca seorang ekonom yang dingin dan mekanistik.
- Kita sedang membaca seorang manusia yang percaya bahwa ekonomi adalah gelanggang moral, di mana di balik angka-angka ada nasib, ada martabat, dan ada masa depan sebuah bangsa.
Mikhail Adam | Peneliti Independen di Nusantara Centre
TRIBUNBANYUMAS.COM - Ada nama yang lahir dari rahim republik, ketika kata merdeka belum selesai dieja dan ekonomi masih berupa reruntuhan gudang-gudang kolonial.
Nama itu adalah Soemitro Djojohadikusumo, seorang ekonom yang berjalan di antara teori dan revolusi, antara statistik dan luka sejarah.
Jika kita membaca jejaknya, kita tidak sedang membaca seorang ekonom yang dingin dan mekanistik. Kita sedang membaca seorang manusia yang percaya bahwa ekonomi adalah gelanggang moral, di mana di balik angka-angka ada nasib, ada martabat, dan ada masa depan sebuah bangsa.
Perjalanan Soemitro sebagai intelektual dimulai pada Mei 1935. Kapal KPM Belanda membawanya menuju Rotterdam untuk menempuh studi di Netherland School of Economics.
Soemitro tidak hanya berhasil lulus, tetapi menorehkan rekor cemerlang. Ia menyelesaikan studi hanya dalam waktu dua tahun tiga bulan atau sama dengan rekor kelulusan tercepat.
Namun, Alih-alih pulang ke Tanah Air, Soemitro melanjutkan kuliah di Universitas Sorbonne, Prancis mengambil studi filsafat dan sejarah. Setelahnya ia kembali ke Rotterdam untuk melanjutkan studi ekonomi.
Usianya pada 11 Maret 1943 baru 25 tahun, mendekati 26 tahun, saat ia memperoleh gelar doktor ilmu ekonomi.
Jarang sekali yang mencapai gelar doktor dalam usia begitu muda. Baik para staf pengajar di lingkungan Nederlandse Economische Hogeschool maupun dunia akademis di negeri Belanda kagum atas kemampuan Soemitro.
Disertasinya mengenai Kredit Rakyat di Masa Depresi telah menarik perhatian berbagai kalangan, sehingga tak seberapa lama kemudian langsung diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Ekonomi Nederlands Economische Hogeschool.
Baca juga: Mengejutkan! Baru Seminggu Dilantik Prabowo, Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditahan Kejagung!
Perjalanan studi Soemitro terasa lengkap dengan merasakan tempaan intelektual di Belanda yang pernah memimpin inovasi ilmiah Eropa di abad 17 dan bersentuhan dengan iklim intelektual Prancis yang lekat dengan pemikiran progresif.
Di Prancis ia bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Zhou Enlai, Ho Chi Minh, hingga Jawaharlal Nehru. Pemikiran Soemitro secara garis besar dibentuk oleh dua hal: dunia kolonial yang meninggalkan luka sejarah dan dunia intelektual yang menjanjikan pembebasan.
Corak ini melahirkan semangat keadilan dalam pemikiran Soemitro. Di sinilah pemikiran sosialisme Soemitro tumbuh.
Seorang Ekonom di Tengah Debu Revolusi
Awal Kemerdekaan kondisi Indonesia jauh dari kata ideal. Infrastruktur rusak, kas negara kosong, dan struktur ekonomi pincang. Republik ini berusaha menata langkah di tengah residu kolonialisme yang masih melekat.
| Mengejutkan! Baru Seminggu Dilantik Prabowo, Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditahan Kejagung! |
|
|---|
| Warga Kaligondang Purbalingga Oplos Elpiji Subsidi, Untung Rp10 Juta Per Bulan |
|
|---|
| Vario 125 Street Resmi Mengaspal: Tampil Ekspresif dengan Naked Handlebar, Cocok untuk Manuver Kota |
|
|---|
| Akui Sulit Hadapi Persipura Jayapura, Caretaker PSIS Semarang: Kami Tetap Punya Peluang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260416-Mikhail-Adam.jpg)