Opini
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026, untuk Apa dan Siapa?
Total kekayaan 40 orang terkaya melonjak jauh lebih cepat, dari sekitar 95 miliar dolar AS menjadi lebih dari 250 miliar dolar AS.
Ringkasan Berita:
- Media Kompas, 20 Desember 2025 menampilkan laporan ekonomi yang cukup provokatif berjudul, “Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 2026: Optimisme dan Tantangannya.”
- Dari grafik yang ditampilkan, diperlihatkan tiga variabel kunci: total kekayaan 40 orang terkaya Indonesia, nilai PDB nasional, dan intensitas oligarki—yakni persentase kekayaan 40 orang terkaya terhadap PDB.
- Tentu ini mengulang-ulang cara media untuk “melupakan hal paling subtansi dari ekonomi: yaitu pemerataan.”
TRIBUNBANYUMAS.COM - Media Kompas, 20 Desember 2025 menampilkan laporan ekonomi yang cukup provokatif berjudul, “Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 2026: Optimisme dan Tantangannya.”
Tentu ini mengulang-ulang cara media untuk “melupakan hal paling subtansi dari ekonomi: yaitu pemerataan.”
Dus, pertanyaan paling jelas dari data grafik Kompas.id 2014–2024 bukan seberapa besar PDB Indonesia tumbuh, melainkan untuk siapa pertumbuhan itu bekerja.
Dari grafik yang ditampilkan, diperlihatkan tiga variabel kunci: total kekayaan 40 orang terkaya Indonesia, nilai PDB nasional, dan intensitas oligarki—yakni persentase kekayaan 40 orang terkaya terhadap PDB.
Ketiganya bergerak naik, tetapi dengan makna distribusional yang timpang. Singkatnya: ketimpangan tajam menjadi ciri ekonomi kita sepuluh tahun terakhir.
Secara nominal, PDB Indonesia meningkat signifikan dari sekitar 890 miliar dolar AS pada 2014 menjadi lebih dari 1.400 miliar dolar AS pada 2024. Ini sering dipakai sebagai indikator keberhasilan pembangunan.
Baca juga: Dugaan Kelalaian Pemkab Banyumas dalam Sewa Aset Menara Teratai Disorot, Akuntabilitas Dipertanyakan
Namun pada saat yang sama, total kekayaan 40 orang terkaya melonjak jauh lebih cepat, dari sekitar 95 miliar dolar AS menjadi lebih dari 250 miliar dolar AS.
Kenaikannya tidak proporsional, melainkan eksponensial.
Di sinilah indikator intensitas oligarki menjadi kunci baca.
Angka ini naik dari kisaran 10 persen pada 2014 menjadi hampir 18 persen pada 2024.
Artinya, hampir seperlima nilai ekonomi nasional setara dengan kekayaan yang dikuasai hanya oleh 40 orang.
Ini bukan sekadar ketimpangan biasa, tetapi konsentrasi kekayaan ekstrem dalam struktur ekonomi modern.
Grafik ini disusun Kompas.id dengan mengolah data Forbes, World Bank, serta kerangka analisis oligarki dari Jeffrey A. Winters.
Winters (2002) menegaskan bahwa oligarki tidak diukur dari jumlah orang kaya, melainkan dari kemampuan mereka mempertahankan dan memperbesar kekayaan relatif terhadap ekonomi nasional.
Grafik ini menunjukkan mekanisme itu bekerja secara konsisten di Indonesia.
| Jalan Pantura Pati Tergenang Banjir di 4 Titik, Simpang Tiga Widorokandang Macet |
|
|---|
| Dugaan Kelalaian Pemkab Banyumas dalam Sewa Aset Menara Teratai Disorot, Akuntabilitas Dipertanyakan |
|
|---|
| Polemik Sewa Aset Menara Teratai, Begini Pandangan Pakar Hukum Administrasi Negara Unsoed |
|
|---|
| Harga Emas Antam Hari Ini, Kamis 22 Januari 2026: Turun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/yudhi-and-friend.jpg)