Realita Hidup di Purwokerto
Uang Rukun dan Hajatan Jadi Biaya Hidup Tersembunyi di Balik Slogan Slow Living Purwokerto
Hajatan dan arisan sering menggerus anggaran keluarga dan turut menyumbang mahalnya biaya hidup di Purwokerto, Banyumas.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
Ringkasan Berita:
- Purwokerto dinilai sebagai kota dengan ritme hidup santai dan cocok sebagai lokasi slow living.
- Namun di baliknya, masyarakat harus menanggung berbagai pengeluaran pokok dan sosial.
- Anggaran kemaslahatan bersosialisasi inilah yang turut menyumbang kian mahalnya biaya hidup di Purwokerto.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Purwokerto, kota kecil di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, banyak digambarkan sebagai kota dengan ritme hidup santai dan cocok sebagai lokasi 'slow living'.
Banyak pendatang yang bahkan merekomendasikan tinggal di Purwokerto karena biaya hidup di kota mendoan disebut terjangkau.
Purwokerto dinilai cocok bagi pensiunan atau sekadar mencari ketenangan dari hiruk-pikuk kota besar.
Namun, realitas di lapangan bagi warga lokal, sangat berbeda jauh.
Pertumbuhan ekonomi yang melesat akibat sektor pendidikan dan perdagangan tak sepenuhnya mendatangkan kesejahteraan.
Biaya hidup yang ikut terdongkrak naik menjadi alasan.
Selain bahan pokok, semisal makan dan hunian, aspek sosial turut menjadi penyumbang.
Kondisi ini diungkap Wahyuni (40), seorang ibu rumah tangga yang hijrah ke Purwokerto dari Jakarta Timur bersama keluarga.
Wahyuni pindah ke Purwokerto setelah suami terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Mereka kemudian memutuskan pulang ke Purwokerto, kota asal suami.
Baca juga: Biaya Hidup Makin Mahal, Slogan Purwokerto sebagai Kota Slow Living Dicibir Warga Lokal
Wahyuni menuturkan, saat di Jakarta, gaji suami cukup untuk bertahan hidup.
Dia mengungkap pengeluaran rumah tangganya, mulai dari biaya sekali makan di warteg di kisaran Rp15 ribu-Rp25 ribu, BBM kendaraan Rp500 ribu-Rp1,2 juta, dan biaya kontrakan Rp1,5 juta-Rp2 juta per bulan, ditambah listrik dan air Rp300 ribu-500 ribu.
Dia pun mengalokasikan dana biaya tak terduga Rp150 ribu-Rp500 ribu.
"Belum kalau pengin nongkrong, kopi, hiburan, kan kita juga butuh hiburan, entah makan di luar atau ke mana, itu ya di angka Rp300 ribu sampai Rp1 juta."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260421-arisan-RT-ibu-ibu-di-purwokerto.jpg)