Berita Cilacap
Cilacap Mengalami Fenomena Bediding, BMKG Imbau Warga Bersiap Hadapi Musim Kemarau
Cilacap memasuki masa pancaroba. Warga pun merasakan fenomena bediding atau udara dingin di malam hingga pagi, siang panas.
Penulis: Rayka Diah Setianingrum | Editor: rika irawati
Ringkasan Berita:
TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Masyarakat di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dan sekitarnya mulai merasakan suhu dingin pada malam hingga pagi hari sementara siang hari panas atau fenomena bediding.
Terkait hal ini, Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan kondisi ini terjadi karena Cilacap tengah memasuki masim kemarau.
"Wilayah Cilacap dan sekitarnya secara umum sudah memasuki musim kemarau yang ditandai suhu udara malam dan pagi hari lebih dingin dibanding biasanya, sementara siang hari terasa lebih panas karena tutupan awan berkurang," ujarnya.
BMKG Cilacap menjelaskan, selain udara yang terasa lebih dingin, masyarakat juga mulai menjumpai fenomena kabut yang muncul pada malam hingga pagi hari di sejumlah wilayah.
"Kabut yang terjadi pada musim kemarau merupakan kabut radiasi yang terbentuk akibat proses pendinginan permukaan bumi secara cepat saat malam hari ketika langit cerah tanpa tutupan awan," kata Teguh.
Baca juga: Dampak Kenaikan Harga Pertamax Mulai Terasa, Ketua DPRD Cilacap Minta Warga Tak Hujat Pemerintah
Ia menjelaskan, panas yang tersimpan di permukaan tanah pada siang hari akan terlepas ke atmosfer saat malam sehingga menyebabkan suhu udara turun dengan cepat dan memicu terbentuknya kabut.
"Penurunan suhu yang cepat membuat uap air di dekat permukaan berubah menjadi titik-titik air kecil yang melayang di udara sehingga membentuk kabut yang biasanya muncul pada malam hingga pagi hari," jelasnya.
Menurut Teguh, fenomena tersebut merupakan kondisi yang normal terjadi selama musim kemarau dan tidak perlu menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
"Kabut akan menghilang dengan sendirinya setelah matahari terbit dan suhu udara mulai menghangat sehingga kejadian ini merupakan fenomena yang lazim terjadi pada musim kemarau," ungkapnya.
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu udara minimum di Pos Pengamatan Bandara Tunggul Wulung Cilacap pada Jumat (12/6/2026) tercatat berada di kisaran 22 derajat Celsius yang masih termasuk kategori normal untuk wilayah Cilacap.
"Pantauan suhu minimum di Bandara Tunggul Wulung mencapai sekitar 22 derajat Celsius dan masih dalam kondisi normal, namun wilayah dataran tinggi umumnya akan merasakan suhu yang lebih dingin," katanya.
Baca juga: Berjarak 2 Jam dari Pusat Kota, Sekolah Rakyat Cilacap hanya untuk Keluarga Miskin
BMKG juga menyebut wilayah Cilacap bagian barat berpotensi merasakan udara yang lebih sejuk dibandingkan kawasan selatan karena dipengaruhi faktor topografi dan ketinggian wilayah.
"Kondisi Cilacap bagian barat cenderung lebih dingin dibanding wilayah selatan karena adanya pengaruh ketinggian tempat yang menyebabkan suhu udara menurun," tutur Teguh.
Imbauan BMKG
Lebih lanjut, BMKG memprakirakan suhu udara dingin masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan dan akan semakin terasa saat memasuki puncak musim kemarau.
| Berjarak 2 Jam dari Pusat Kota, Sekolah Rakyat Cilacap hanya untuk Keluarga Miskin |
|
|---|
| Harga BBM Nonsubsidi Naik, Pengguna Pertamax di Cilacap Beralih ke Pertalite |
|
|---|
| Beroperasi Juli 2026, Pembanguan Sekolah Rakyat Cilacap Baru Separuh Jadi |
|
|---|
| Dampak Kenaikan Harga Pertamax Mulai Terasa, Ketua DPRD Cilacap Minta Warga Tak Hujat Pemerintah |
|
|---|
| Bunga Kamboja di Adipala Cilacap Bakal Punya Nilai Jual Tinggi, Diolah Menjadi Parfum |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/26022026-alun-alun-cilacap-ikon-cilacap.jpg)